
JoSS, SEMARANG – Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Amanat Nasional (PAN) Jateng mencoba peruntungan menjagokan sejumlah kadernya dari kalangan artis untuk masuk dalam bursa pemilihan Walikota Semarang pada 2020 mendatang.
Wakil Ketua DPW PAN Jawa Tengah, Agung Wisnu Kusuma mengatakan Primus Yustisio atau Desy Ratnasari dinilai mampu mendulang suara di Kota Lunpia ini, menantang petahana Walikota Semarang Hendrar Prihadi atau yang kerap disama Hendi
Dia menambahkan, dalam pilkada serentak tahun depan, PAN akan menerapkan strategi yang dipakai saat Pilkada di Palu, Sulawesi Selatan yang juga menjagokan kader dari kalangan selebritis.
“Terutama di Kota Semarang, PAN akan mencoba menawarkan kader terbaik dengan tingkat popularitas yang tinggi semisal Primus Yustisio atau Desy Ratnasari,” tegasnya.
Dia menjelaskan terpuruknya suara PAN Jawa Tengah di pemilu 2019 menjadi bahan evaluasi internal untuk menghadapi pemilu selanjutnya. Dalam waktu dekat adapala Pilkada Serentak 2020, di mana ada 21 kabupaten/kota di Jateng yang akan melangsungkan hajatan tersebut.
“Di Jawa Tengah ada 21 Kabupaten/Kota. Kami akan memanfaatkan momentum itu untuk mendongkrak suara PAN,” tuturnya, belum lama ini, seperti dikutip dari TribunJateng.
Baca juga: PDIP Masih Usung Hendi di Pilwakot Semarang 2020
Dia menuturkan keinginan PAN dalam mencalonkan kadernya dari kalangan artis tersebut bertujuan supaya warga Kota Semarang memiliki pilihan untuk menentukan siapa sosok terbaik untuk menjadi kepala daerah periode selanjutnya.
“Yang pasti nantinya Primus akan ada di posisi wakil. Kami tahu diri karena kursinya juga kurang,” ucapnya.
Ketika ditanya apakah akan ditawarkan untuk menjadi wakil Hendrar Prihadi, Agung hanya memberikan isyarat tidak akan berkoalisi dengan PDIP.
“Kami ingin warna biru itu bisa kelihatan lebih jelas, karena sekarang sudah samar-samar. Kalau misal dicampur dengan warna merah pasti akan semakin samar,” terang Agung.
Untuk itu, saat ini PAN Jateng mengintensifkan komunikasi internal dan eksternal, terkait potensi-potensi masing-masing daerah.
“Nantinya akan kami bahas di desk pilkada. Filosofinya, siapa yang persiapannya semakin sempurna, maka dia yang paling memungkinkan memenangi pertempuran,” imbuhnya.
Namun ia akui, popularitas kader saja tidak cukup. Karena logistik kader yang kuat juga diperlukan untuk memenangkan pertandingan.
“Saya pernah dengar seorang kawan pengamat politik mengatakan, jika suatu pemilihan itu semakin dekat dengan pemilihnya (masyarakat), maka akan cenderung semakin boros. Jadi tentu pilkada serentak nanti harus ada kekuatan logistik yang cukup untuk memenangkan pertandingan,” tutupnya. (lna)

Leave a Reply