JoSS, SEMARANG – Kebakaran melanda hutan di kawasan Candi Gedong Songo tepatnya di lereng Gunung Ungaran, Kabupaten Selasa (17/9) pagi. Api diduga berawal bekas pembakaran dupa yang tidak dimatikan dari dekat jurang yang terdapat kawah belerang.
Kepala Bidang (Kabid) Pemadam Kebakaran (Damkar) dan Perlindungan Masyarakat (Linmas) Satuan Polisi (Satpol) Pamong Praja (PP) Kabupaten Semarang, Aris Muji Wibowo, mengatakan munculnya titik api itu sempat terpantau petugas Perhutani yang saat itu tengah bertugas.
Damkar Kabupaten Semarang yang mendapat informasi adanya kebakaran itu tak bisa menerjunkan mobil pemadam kebakaran karena terkendala akses.
“Karena tidak memungkinkan [menggunakan mobil pemadam kebakaran], kami berkoordinasi dengan petugas hutan dan rekan-rekan sukarelawan dari Pam Swakarsa, Komunitas Relawan Rompal, Sakpala, BPBD Kabupaten Semarang, Polsek Bandungan, Polsek Sumowono, Koramil Bandungan, pengelola objek wisata Gedong Songo, dan warga, untuk melakukan pemadaman,” katanya.
Aris menambahkan seluruh sukarelawan berusaha memutus jalur api agar tidak meluas. Namun, karena angin yang berhembus di kawasan itu cukup kencang, titik api pun bermunculan di beberapa lokasi.
“Beruntung tidak ada korban jiwa atau terluka dalam kejadian ini. Namun, kami belum mengetahui penyebab kebakaran. Kemungkinan kebakaran terjadi karena adanya gesekan pada ranting maupun daun kering yang tertiup angin,” terang Aris.
Baca juga: Terganjal Regulasi, Nasib Ganti Rugi Lahan SMP 16 Semarang Tak Jelas
Aris pun mengimbau kepada masyarakat di sekitar Candi Gedong Songo untuk berhati-hati dalam beraktivitas. Ia juga meminta warga masyarakat untuk aktif melaporkan kondisi yang terjadi di lingkungan sekitar, terutama jika melihat kemunculan titik api yang berpotensi menyebabkan kebakaran besar.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Semarang Heru Subroto mengatakan, luasan lahan yang terbakar masih bisa bertambah karena masih ada titik api yang belum padam. “Hitungan awal sekitar 2,5 hektar, tapi karena api berada di lahan yang sulit dijangkau, bisa membesar lagi. Saat ini kita mencoba melokalisir api,” terangnya.
Heru mengatakan, meski secara umum api hanya membakar lahan kosong, tapi Patung Hanoman terkepung api. “Kalau untuk candi, dari yang pertama sampai ke sembilan aman. Namun Patung Hanoman terkepung dan terbakar,” ungkapnya.
Penyebab kebakaran, dari laporan yang diterimanya, karena ada warga yang membakar dupa. “Jadi itu warga membakar dupa, tapi ditinggal begitu saja dan tidak dimatikan dulu. Akhirnya kena daun dan ranting hingga api membesar,” kata Heru.
Api sulit dipadamkan selain karena lokasinya berada di lembah dan jurang, juga karena tiupan angin yang kencang. “Kondisi ini sangat menyulitkan. Apalagi gerakan pemadaman juga dilakukan secara manual. Kalau untuk penggunaan helikopter, kita masih akan melakukan koordinasi lintas sektor lebih dulu,” tegas Heru. (lna)

Leave a Reply