
JoSS, HONG KONG – Situasi gelombang unjuk rasa yang telah berlangsung berbulan-bulan di Hong Kong kini makin memanas disertai peningkatan aksi anarkis. Meski demikian Otoritas Hong Kong mengklaim masih dapat mengendalikan.
Dikutip dari Reuters, Selasa (27/8) Carrie Lam, Pimpinan Adminstratif Hong Kong, mengatakan pihaknya tidak akan menyerah membangun dialog untuk menyelesaikan persoalan di wilayahnya meskipun belum dapat melakukan investigasi terhadap aparat yang dianggap melakukan kekerasan fisik.
“Kami harus mempersiapkan rekonsiliasi di masyarakat melalui komunikasi dengan orang yang berbeda. Kami ingin mengakhiri situasi kacau di Hong Kong,” katanya, Selasa (27/8).
Lam menegaskan dirinya tidak mempercayai anggapan yang menyebut pemerintahannya telah kehilangan kendali dalam menangani aksi protes yang terus berlanjut.
Lam sendiri telah berbicara di depan umum untuk pertama kalinya di pekan yang sama saat terjadi bentrokan keras antara aparat keamanan dan demonstran.
Dalam bentrokan itu, polisi dilaporkan telah menembakkan meriam air dan gas air mata kepada pengunjuk rasa yang melemparkan batu serta bom molotov.
Hong Kong memang sedang bergulat dengan krisis politik terbesar sejak wilayah itu dikembalikan Inggris kepada China pada 1997. Otoritas Partai Komunis bahkan telah mengirimkan peringatan akan melakukan intervensi lebih jauh untuk meredam aksi protes.
Baca juga: Mahasiswa Hong Kong Boikot Perkuliahan Selama Dua Pekan
Banyaknya aksi protes yang dilakukan warga Hong Kong dianggap menjadi tantangan langsung kepada pihak berwenang di Beijing yang ingin memadamkan kerusuhan menjelang peringatan 70 tahun berdirinya Republik Rakyat Tiongkok pada 1 Oktober.
China juga menyampaikan peringatan kepada negara lain yang ingin ikut campur dalam penyelesaian protes di Hong Kong setelah pertemuan puncak G7 menyerukan agar menghindari kekerasan dalam penyelesaian protes.
Sementara itu, Media resmi China mengutip pejabat Hong Kong yang menyebutkan industri wisata kota pulau itu limbung akibat aksi unjuk rasa.
Industri pariwisata Hong dilaporkan terpuruk menyusul aksi unjuk rasa yang hampir setiap hari terjadi dalam beberapa bulan terakhir.
Dalam lima hari pertama bulan Agustus 2019, jumlah kunjungan wisata berkurang hingga 31 persen dibandingkan periode yang sama pada bulan Agustus 2018.
Tren tersebut berlanjut hingga lima hari berikutnya dengan penurunan kunjungan wisata sebesar 33,4 persen.
Sekretaris Keuangan Wilayah Administrasi Khusus Hong Kong Paul Chan Mo-po malah menyebutkan penurunan kunjungan wisata pada 11-15 Agustus 2019 mencapai 40 persen sebagaimana dikutip media resmi China, Jumat.
Akibat penurunan tersebut, beberapa hotel di salah satu kota tujuan wisata terbesar di Asia itu banting harga. (lna)

Leave a Reply