JoSS, BANYUMAS – Sekawanan monyet berekor panjang menyerbu permukiman warga di Dusun Cikakak, Desa Cikakak, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Monyet-monyet tersebut datang untuk mencari makanan.
Di tengah musim kemarau, habitat hewan di hutan mulai berkurang karena kekeringan, selain itu juga pembukaan lahan untuk permukiman menjadi penyebab menipisnya persediaan makanan bagi para monyet.
Sebuah warung kopi milik Karsini, tidak jauh dari Masjid Saka Tunggal Baitussalam kawasan hutan tersebut, menyediakan jagung, pisang, dan kacang untuk diberikan kepada monyet-monyet tersebut.
“Belakangan ini monyet-monyet sudah mulai berdatangan ke sini. Mereka mencari makan,” kata Karsini, seperti dikutip dari Suara.com Kamis (25/7).
Fenomena ini terjadi diduga karena sumber makanan di kawasan hutan mulai berkurang. Sehingga kawanan monyet menjadi kesulitan mencari makan di dalam hutan, hingga akhirnya turun masuk ke pemukiman.
Satwa bernama latin Macaca fascicularis itu juga suka pada ketupat dan gorengan yang ia jual. “Lihat monyet butuh makan, kasihan jadinya dikasih. Toh mereka tidak buas, walapun tidak satupun yang dipelihara. Kadang suka nyuri makanan. Tapi ya itu, namanya juga monyet,” kata dia.
Warga lainnya, Tarjuki mengatakan, masuknya monyet liar ke permukiman menjadi keniscayaan. Karena hutan yang menjadi naungan mereka, sumber makanannya telah berkurang saat kemarau.
Baca juga: Kekeringan, Lima Daerah di Jateng Krisis Air Bersih
Begitu pula di area perkebunan warga. Lahan yang sedianya berisi sumber makanan, kini lebih banyak ditanami kayu-kayuan. Karena kesulitan, monyet pun jadi lari ke perkampungan untuk cari makan.
Sekretaris Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Masjid Saka Tunggal Cikakak, Jarwoto Andi Purnomo mengakui, sudah mulai ada sejumlah monyet yang turun ke permukiman warga di tengah musim kemarau ini. Namun sesuai pengamatan pihaknya, jumlahnya masih relatif sedikit.
Ia menghitung, populasi monyet di Cikakak saat ini sudah mencapai ribuan. Mayoritas dari mereka bernaung di hutan. “Sistemnya mereka berkelompok. Terhitung ada 5 kelompok monyet, sekaligus tempat bernaung di hutan,” katanya.
Sementara itu, untuk menyetop kelakuan nakal dan usil dari kawanan monyet liar yang masuk ke pemukiman. Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) setempat menggagas pembuatan kebun buah.
Untuk diketahui, area wisata di wilayah itu menitikberatkan pada keberadaan Masjid Saka Tunggal Baitussalam. Di sekeliling masjid bersejarah ini terdapat area lapang dan makam yang menjadi tempat peristirahatan terakhir masyarakat setempat, semenjak pendahulunya.
Pada kompleks area tanah lapang itulah digagas akan disiapkan kebun buah untuk menjadi sumber makanan bagi monyet.
“Kita punya wacana menggandeng kelompok tani menanam tanaman buah-buahan yang sifatnya tidak mengenal musim di kompleks wisata, seperti jambu biji. Kita antisipasi biar monyet tidak berkebiasaan mencari apalagi mencuri makanan di hunian warga atau perkebunan,” kata Jarwoto. (lna)

Leave a Reply