Tradisi Syawalan, 105 Balon Udara Warnai Stadion Hoegeng Pekalongan

Java Balon Festival 2019 | Foto: medcom

JoSS, PEKALONGAN – Sebanyak 105 balon udara berbagai motif, bentuk dan ukuran mewarnai Stadion Hoegeng, Pekalongan, Rabu (12/6) dalam gelaran Java Balon Festival 2019. Agenda ini untuk memperingati tradisi Syawalan.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menyatakan acara ini sangat meriah, jika tahun lalu hanya ada 38 balon, kali ini ada 105 balon udara yang ditambatkan di dalam stadion. Dia meyakini pelaksanaan salah satu tradisi syawalan ini bisa jadi jujugan pariwisata di kota Pekalongan.

Dia menambahkan yang membuat menarik, selain menampilkan ciri khas Pekalongan dengan batiknya, balon udara yang diterbangkan hadir dengan berbagai model bahkan ada peserta yang sengaja membuat model bus.

“Ini ada destinasi wisata baru di kota Pekalongan. Karena semua balonnya menarik, kreasinya bagus-bagus dengan ciri khas Pekalongan,” kata Ganjar melalui siaran persnya Rabu (12/6).

Baca juga: Dusun Semilir, Wisata Baru Nan Unik di Sekitar Exit Tol Bawen

Selain kreasi balon, yang membuat Ganjar terpukau pada Java Balon Festival adalah semangat dari warga. Keguyuban mereka, menurut Ganjar bukan hanya nampak ketika membuat, namun juga ketika hadir untuk menerbangkan balon. Karena semua peserta mengenakan kostum-kostum yang unik, bahkan didukung pula dengan supporter yang tidak kalah menarik.

“Ini bisa dijadikan contoh bagi daerah lain yang punya tradisi syawalan serupa. Di Wonosobo juga ada tradisi seperti ini. Nah jika semua tempat melakukan tradisi dengan kreasi seperti ini akan mampu memajukan wilayahnya,” katanya.

Acara tersebut merupakan hasil rembugan antara Ganjar dengan Menteri Perhubungan. Ada dua sisi dilematis ketika menjelang perayaan syawalan, khususnya di Kota Pekalongan dan di Wonosobo. Karena di dua daerah tersebut punya tradisi menerbangkan balon, bahkan ada balon terbang yang sengaja diberi petasan untuk menarik perhatian.

“Di satu sisi penerbangan balon itu ssbagai tradisi, namun di sisi lain balon yang terbang itu membahayakan penerbangan. Bahkan petasan yang ditaruh itu juga membahayakan. Karena pernah ada kejadian petasannya menggunakan gas tabung, membahayakan yang di bawah bahkan pernah menimbulkan kebakaran,” ujarnya.

Karena ada sisi yang membahayakan penerbangan, AirNav segera mengambil langkah cepat. Namun tidak serta merta menghapus tradisi tersebut.

Dirut AirNav, Novie Riyanto Rahardjo mengatakan kompromi yang dilakukan akhirnya balon tetap diterbangkan namun tidak diliarkan, tetap ditambat di tanah. Hal itu sesuai dengan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 40 Tahun 2018 tantang penggunaan balon udara pada kegiatan budaya masyarakat.

“Oleh karena, kami memfasilitasi masyarakat Pekalongan dengan menggelar Festival Balon tambat (tali). Tradisi tetap berjalan namun penerbangan tetap aman,” tuturnya. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*