JoSS, SOLO – Belasan armada Batik Solo Trans (BST) terpaksa dikandangkan. Pasalnya operator merasa kesulitan untuk memenuhi biaya operasional angkutan milik badan layanan umum daerah tersebut.
Direktur PT Bengawan Solo Trans Farida Wardhatul Jannah mengatakan, beberapa waktu lalu dia sempat mengutarakan keluhan tersebut pada Wali Kota F.X. Hadi Rudyatmo.
Pemkot kemudian menjalin komunikasi dengan pemerintah pusat. Hasilnya, muncul wacana bay the service (pembelian pelayanan oleh pemerintah kepada operator, Red).
“Kalau itu terealisasi kami bisa bernapas lega, mengingat beban operasional dalam beberapa tahun terakhir terlampau tinggi,” ujar Farida pada Jawa Pos Radar Solo, belum lama ini.
Farida mengatakan, pada awal beroperasi pada 2017, sebenarnya BST cukup diminati masyarakat. Namun, seiring maraknya transportasi online di Kota Solo, akhirnya berimbas pada minat penumpang BST ikut turun.
Baca juga: Motor Pemudik Gratis bakal Diparkir di Rooftop Terminal Tirtonadi Solo
“Pada 2017, sebelum ada transportasi online, kondisi masih baik. Tapi setelah dua tahun beroperasi makin kritis. Pendapatan semakin berkurang dan tidak cukup untuk operasional. Kini mau kasih THR (tunjangan hari raya) saja kesulitan. Tahun lalu kami masih bisa bayar gaji bersamaan dengan THR. Tahun ini THR dulu baru gaji,” katanya seperti dikutip Radarsolo.Jawapos.com.
Saat ini ada 12 armada BST dari tiga koridor berbeda yang sengaja tidak dioperasikan. Hal ini untuk mengurangi agar beban operasional tidak membengkak. Operator menyiasati dengan mengoperasikan sejumlah armada sesuai kebutuhan pasar.
“Hampir di tiga koridor ini masalahnya sama. Koridor dua misalnya. Awal operasi pada 2017 lalu ada 21 armada yang jalan. Kemudian dikurangi jadi 15 armada pada 2018. Dan tahun ini hanya delapan sampai sepuluh armada,” beber Farida.
Dampaknya, pelayanan jadi menurun. Ketepatan waktu kedatangan antararmada yang cukup dekat sebelumnya kini jadi lebih panjang. Operator kemudian mengadukan hal ini kepada wali kota. (Wiek/lna)

Leave a Reply