Mbah Satinem Tenar Gara-gara Netflix, Kok Bisa

netflix
Mbah Satinem | Foto: google

JoSS, JOGJA – Mbah Satinem belakangan mulai tenar akibat tampil dalam Netflix dalam serial Street Food. Makanya hari-hari terakhir ini banyak pembeli baru yang datang setelah melihat Netflix. Bahkan mereka minta foto bersama Mbah Satinem.

Mbah Satinem adalah salah satu dari sekian banyak penjual jajan pasar yang masih menjaga keaslian rasa jajan pasar di tengah gempuran makanan kekinian. Netflix  mengangkat kisah Mbah Satinem dalam serial dokumenter Street Food episode Yogyakarta, Indonesia. Setelah kisah hidupnya diangkat menjadi serial dokumenter, Mbah Satinem pun makin terkenal.

“Si Mbah seneng jadi semakin terkenal. Dua hari yang lalu ada yang belum pernah datang ke tempat Mbah, kemudian tiba-tiba datang, katanya tahu Mbah dari nonton Netflix,” ujar Mbah Satinem seperti dirilis Okezone.com.

Tangan Mbah Satinem dalam mengolah makanan memang begitu spesial. Dengan racikanya, jajan pasar begitu nikmat dan mengiurkan. Terbukti, Presiden Soeharto, sempat menjadi pelanggan tetap Mbah Satinem.

Baca juga: Ari Lasso Berbisnis Karaoke Sambil Cari Penyanyi Berbakat 

“Sekarang ada banyak pembeli baru yang jadi tahu tempat Mbah berjualan. Banyak juga yang mengajak foto bareng dengan Mbah,” sambungnya lagi.

Seperti diketahui, Indonesia kaya akan makanan khas tradisonal karena memiliki segudang budaya yang berbeda di setiap wilayah. Netflix pun turut mengangkat makanan khas asli Indonesia yang berasal dari Yogyakarta.

Jajan pasar, mi lethek hingga gudeg merupakan simbol makanan tradisional Yogyakarta yang masih menjaga adat dan budaya. Dari ramainya makanan kekinian, pesona jajan pasar, mi lethek dan gudeg masih menjadi primadona. Bahkan kerap menjadi oleh-oleh para wisatawan.

Di antara pembuat jajan pasar, nama Mbah Satinem adalah yang paling harum. Ia menjadi legenda hidup karena berhasil membuat jajan pasar begitu mengoda dan menarik. Berkat ilmu dari almarhum sang ibunda, Mbah Satinem terus menghadirkan jajan pasar yang autentik dengan cara pembuatan yang tradisional pula. (Wiek/lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*