JoSS, SEMARANG – Meski sempat ditentang oleh pemerhati sejarah karena dianggap ubah situs bersejarah, Pemerintah Kota Semarang akan tetap membangun toilet sebagai fasilitas umum (fasum) di dekat sumur artesis kawasan Kota Lama tepatnya di dekat Taman Srigunting.
Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi mengatakan, pembangunan fasum tersebut merupakan bagian dari program revitalisasi kawasan Kota Lama untuk mempercantik lingkungan tanpa menutup sumber mata air yang ada di sumur tertua di Kota Semarang.
“Kalau saya melihat, itu upaya untuk mempercantik lingkungan tanpa kemudian menutup sumber air tersebut. Menurut saya, itu [pembangunan toilet] justru menghaditkan manfaat lebih sebagai upaya melengkapi fasilitas umum untuk kenyamanan pengunjung,” kata Hendi, seperti dikutip Asatu.id.
Baca juga: Penataan Kota Lama Dikebut, Target Rampung Maret 2019
Hendi menegaskan, Pemkot berkomitmen untuk mempertahankan situs maupun artefak bersejarah di Kota Lama.
Tidak hanya sumur tua, dia juga memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk menggali dan mempelajari artefak yang ditemukan di Kota Lama, seperti temuan tumpukan batu bata di bawah Jalan Gelatik dan artefak di Bundaran Bubakan.
“Kalau itu coba digali lebih banyak lagi maka akan membutuhkan waktu yang sangat lama dan perlu energi yang besar. Kami akan kembangkan hal-hal seperti itu supaya generasi mendatang bisa mempelajari bahwa dulu tempat-tempat itu digunakan seperti apa,” tambahnya.
Pj Direktur PDAM Tirta Moedal Kota Semarang, Iswar Aminudin mengakui, sumur tua di dekat Taman Srigunting memang masih memiliki kualitas air yang baik meski sudah berumur ratusan tahun.
“Itu sumber alami dan salah satu air bawah tanah yang airnya bagus banget, tidak mungkin kami tutup,” tegas pria yang juga menjabat Kepala DPU Kota Semarang.
Dia menjelaskan, keberadaan toilet tidak akan menghilangkan nilai sejarah dan tidak akan mencemari air sumur tua tersebut sebab pihak proyek telah memakai sistem biopori dalam pembangunan toilet tersebut. (Wiek/lna)

Leave a Reply