Waduh, Debit Air di DIY Turun Rata-Rata 10% Pertahun

debit air
Ilustrasi | Foto: google

JoSS, JOGJA – Persatuan Perusahaan Air Minum Seluruh Indonesia (Perpamsi) mengatakan kondisi air di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengalami penurunan debit hingga 10% per tahun. Kondisi ini disebabkan oleh pembangunan yang berdampak serius terhadap lahan resapan.

Wakil ketua Perpamsi di Jogja pada Sabtu (13/4) menjelaskan ketersediaan air di DIY masih cukup hingga tahun 2030. Namun dengan kondisi penurunan debit air yang akan semakin bertambah maka data tersebut menunjukan hal ini sudah mengalami krisis berdasarkan perhitungan neraca yang ada di DIY.

Menurut dia kondisi air mengalami penurunan debit menurut sifat teknis secara alami. Hal itu disebabkan anomali cuaca yang terjadi saat ini, sehingga konservasi tidah bisa berjalan dengan baik.

Seperti diketahui, konservasi adalah upaya-upaya pelestarian lingkungan akan tetapi tetap memperhatikan manfaat yang bisa didapatkan pada saat itu dengan cara tetap mempertahankan keberadaan setiap komponen-konponen lingkungan untuk pemanfaatan di masa yang akan datang.

“Yang ada di kita itu kondisi air mengalami penurunan debit menurut sifat teknis secara alami. Karena sekarang musim saja sulit ditebak, hujannya susah ditebak. Hingga kemudian, untuk konservasi juga tidak bisa berjalan dengan baik,” kata Dwi Nurwata, Seperti dikutip dari KR, Sabtu (13/04)

Baca juga: Pangkas Rantai Distribusi, Jogja Bakal Bikin Grosir Pangan

Lebih lanjut dia menjelaskan hampir semua kabupaten maupun kota di DIY rata-rata mengalami kondisi penurunan debit air dari 5-10 persen ketika diambil semple.

Menurut dia ada dua hal yang menjadi faktor penurunan air di DIY, diantaranya karena faktor pembangunan yang tidak memperhatikan keberlangsungan konservasi sehingga berdampak serius terhadap ketersediaan air di masa mendatang.

Untuk itu, dia mengusulkan kepada semua pihak baik pemerintah, pengusaha properti dan masyarakat pada umumnya untuk membuat sumur resapan atau biopori sehingga saat hujan air bisa terserap secara maksimal.

“Maka sebetulnya kalau boleh kita mengusulkan kepada semuanya saja untuk membuat biopori atau sumur resapan sehingga ketika hujan air bisa dipanen tidak lari lagi ke sungai,” katanya.

Akibat pembangunan itu, menurutnya saat ini tekstur tanah sulit menyerap air. “Kita (PDPD) sudah punya program, salah satunya untuk pelestarian konservasi program itu nanti diserahkan masing-masing daerah untuk diimplementasikan baik sosialisasi maupun pelaksanaan sesuai dengan kemampuan,” ucapnya. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*