
JoSS, BREBES – Mungkin belum banyak yang tau pesona Telaga Ranjeng atau biasa masyarakat setempat menyebutnya Telaga Renjeng. Kondisinya memang masih belum tereksplor sepenuhnya, namun telaga yang konon menjadi tempat permandian para raja ini cukup ramai dikunjungi wisatawan.
Berada di bawah kaki Gunung Slamet, telaga yang cukup mudah dijangkau karena berada di jalan menuju ke arah desa pandansari kecamatan paguyangan kabupaten Brebes ini dikelilingi oleh hutan damar dan pinus.
Telaga renjeng telah lama menjadi objek wisata, situs ini telah ditetapkan sebagai cagar alam sejak pemerintahan kolonial Belanda. Tidak seperti telaga wisata pada umumnya, disini tak ada perahu atau rakit yang dapat membawa wisatawan berkeliling telaga.
Bahkan di tepi telagapun tak terdapat area untuk pengunjung bermain atau sekedar duduk duduk dibibir telaga. Sejauh mata memandang, hanya air tenang dikelilingi rimbunan pepohonan yang terlihat. Dan yg paling istimewa dari telaga ini adalah ikan ikan berukuran besar yang akan bergerombol mendekati pengunjung bila datang membawa makanan, seperti roti atau snack yang dilempar ke tepi telaga.
“Menurut cerita orang tua-orang tua, dahulu kala Telaga Renjeng merupakan tempat mandi para tokoh kerajaan di Jawa. Jadi mereka menyempatkan diri datang untuk membersihkan diri di sini,” ungkap Mbah Warsun (70), warga Pandansari yang berjualan di area depan telaga.
Baca juga: Umbul Sigedang, Bekas Tempat Permandiannya Putri Kerajaan
Udara di kawasan ini sejuk, banyak tumbuh pohon pinus. Penghuni telaga adalah ribuan ikan yang jinak antara lain lele, mujair, dan emas yang dianggap keramat. Konon, keberadaan ikan-ikan tersebut misterius.
Sebab, masyarakat sekitar sama sekali tidak memelihara atau menyebarkan benihnya. Ikan-ikan tersebut tiba-tiba sudah muncul di telaga. Warga tak ada yang berani memancing atau menjaringnya. Jumlah ikan pun berlimpah karena tak ada yang mengganggu keberadaan mereka.
Di sisi lain, Telaga Renjeng juga dianggap sebagai tempat yang mistis. Di tempat ini banyak orang-orang yang menjalani ritual ngalap berkah (mencari berkah). Sesuai dengan mitos yang diyakini penduduk sekitar mengenai keberadaan Telaga Ranjeng.
“Ada kepercayaan jika mengambil air di Telaga Renjeng bisa dipakai untuk mencegah lahan pertanian dari serangan hama. Jadi banyak warga dari luar seperti Cilacap yang datang hanya untuk mengambil air di telaga,” ujar Kasmo, ketua RT 9 RW 4 Desa Pandansari, seperti dikutip dari Tribunjateng.
Kawasan Telaga Renjeng juga dekat dengan perkebunan teh Kaligua yang dikelola PTPN IX milik pemerintah. Pengunjung bisa menikmati suasana perkebunan dengan udara yang segar serta pemandangan yang indah.
Selain menikmati indahnya kebun teh, di kawasan perkebunan teh Kaligua terdapat Gua Jepang. Gua ini merupakan gua buatan pada zaman penjajahan Jepang. (Wiek/lna)

Leave a Reply