Setelah Mengkudeta Presiden, Rakyat Sudan Tolak Pimpinan Militer

JoSS, SUDAN – Ibarat lepas dari terkaman singa jatuh ke mulut buaya. Perayaan kejatuhan Presiden Sudan Omar al-Bashir ternyata tak berlangsung lama dinikmati masyarakat Sudan. Pasalnya dalam hitungan jam angkatan bersenjata memutuskan mengambil alih kekuasaan usai kudeta.

Angkatan bersenjata membentuk Dewan Militer, dan tidak memberi kesempatan kalangan sipil membentuk pemerintahan baru, setelah lepas dari cengkeraman kekuasaan Bashir selama 30 tahun.

Seperti dilansir CNN, Sabtu (13/4), kelompok pegiat Asosiasi Profesional Sudan (SPA) menyatakan menolak militer mengambil alih pemerintahan. Mereka mendesak seluruh rakyat tetap berunjuk rasa mendesak angkatan bersenjata menyerahkan kekuasaan kepada kelompok sipil.

“Rezim ini juga menggunakan kudeta untuk kembali berkuasa, padahal kami sebagai rakyat justru melawan hal itu,” demikian pernyataan SPA.

Baca juga: Ivanka Trump Kandidat Presiden Bank Dunia

Aktivis Omar al-Neel menyatakan menolak pemerintahan militer.

“Seluruh rakyat Sudan di jalan menuntut rezim sebelumnya turun dan tidak ingin kembali ke pusaran yang sama,” kata al-Neel.

Desakan rakyat itu terbukti cukup ampuh. Menteri Pertahanan Sudan yang juga Kepala Dewan Militer, Jenderal Awad Ibn Auf, menyatakan mengundurkan diri dari posisinya.

Akan tetapi, rezim angkatan bersenjata tetap berjalan dan posisinya digantikan oleh Letjen Abdel Fattah al-Burhan Abdelrahman.

“Demi memastikan sistem pertahanan dan angkatan bersenjata secara keseluruhan, demi menghindari perpecahan dan perselisihan, mari kita berjalan ke arah baru,” kata Ibn Auf.

Kepala Komite Politik Dewan Militer, Omar Zain al-Abideen, menyatakan mereka akan berdialog dengan sejumlah politikus dan partai politik untuk mempersiapkan langkah-langkah pemilihan umum. Dia berharap pemilu bisa digelar dalam rentang waktu dua tahun, atau lebih cepat.

Angkatan bersenjata Sudan melakukan kudeta terhadap kepemimpinan Presiden Omar al-Bashir, yang telah berkuasa sejak 1989 pada 11 April.

Kudeta dilakukan setelah gelombang unjuk rasa untuk menuntut Bashir mundur kian gencar sejak pekan lalu. Hal itu sudah dilakukan sejak Desember 2018.

Sementara itu, militer Sudan saat ini memberlakukan jam malam. Mereka juga menutup seluruh perbatasan dan ruang udara sampai pemberitahuan lebih lanjut.

Kepolisian Sudan melaporkan setidaknya 16 orang tewas akibat “tembakan amunisi” di sela demonstrasi di depan markas militer usai kudeta dua hari lalu.

“Enam belas orang tewas dan 20 lainnya terluka karena tembakan amunisi,” ujar juru bicara kepolisian Sudan, Hashim Abdelrahim, sebagaimana dikutip AFP.

Ribuan warga Sudan menggelar aksi protes di depan markas tentara sejak, Kamis (11/4), tak lama setelah militer memberlakukan jam malam di tengah kisruh kudeta Presiden Omar al-Bashir.

Jam malam ini diberlakukan tak lama setelah militer mengambil alih pemerintahan di Sudan dengan membentuk Dewan Militer selama dua tahun ke depan.

Indikasi kudeta Bashir mulai menguat ketika Kementerian Pertahanan dan angkatan bersenjata mulai mengerahkan pasukan dan mengepung kediaman presiden. Mereka juga menarik seluruh ajudan presiden.

“Saya mengumumkan atas nama Menteri Pertahanan telah melengserkan rezim dan menahan presiden di tempat aman,” kata Menteri Pertahanan Sudan, Awad Ibnouf. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*