
JoSS, REMBANG – Petani Kendeng Desa Timbrangan dan Tegaldowo Kecamatan Gunem Kabupaten Rembang menggelar ritual Ngalungi Sapi. Ritual ini merupakan bentuk syukur kepada Tuhan atas berjalannya kegiatan bertani.
Juru bicara Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JM-PPK), Sukinah mengatakan ritual ini sebagai bentuk terima kasih, lantaran hewan sapi atau kerbau untuk membajak tanah para petani. Bagi petani Kendeng, ritual ini merupakan cara merawat hubungan mereka dengan makhluk Tuhan yang lain.
“Bagi petani Kendeng, kelestarian budaya dan alam tidak bisa dipisahkan. Tanpa alam yang lestari dan tanpa budaya adiluhung yang terus terpelihara, maka musnahlah peradaban manusia,” ujarnya, melalui keterangan tertulisnya.
Hari ini dua tahun lalu, bertepatan dengan dikeluarkannya rekomendasi kajian lingkungan hidup strategis (KLHS) oleh tim ahli.
KLHS Pegunungan Kendeng lahir atas perintah Presiden buah pertemuan dengan petani Kendeng di Istana Negara 2 agustus 2016.
Hingga kini, rekomendasi hasil KLHS Pegunungan Kendeng tidak satupun dijalankan oleh pemangku negeri ini baik tingkat pusat maupun daerah.

“Bahwa, dasar operasi PT Semen Indonesia di Rembang banyak melakukan pelanggaran dan hasil rekomendasi KLHS Kendeng tidak patuhi sama sekali. Sampai kapanpun, kami akan terus memperjuangkan kelestarian Pegunungan Kendeng, terus menolak keberadaan industri semen dan penambangan batu kapur di Pegunungan Kendeng,” katanya.
Baca juga: Batik Jolawe, Gunakan Bekas Sampah untuk Pewarna
Pegunungan Kendeng merupaka pegunungan kapur purba yang berfungsi sebagai penyerap gas Karbondioksida dua kali lipat dari pepohonan, sebagai tempat resapan dan penyimpan air melalui sungai bawah tanah.
“Karena kami tidak hanya memikirkan masa depan pertanian kami. Tetapi, kami juga memikirkan masa depan seluruh makhluk hidup yang ada di dalam Pegunungan Kendeng dan masa depan anak cucu kita semua,” ucapnya.
Dalam momen Pemilu 2019 ini, pihaknya meminta para politikus yang berkontestasi untuk merealisasikan keberpihakan kepada kepentingan rakyat.
Petani Kendeng juga mendukung pembangunan yang berkelanjutan dengan tidak menghancurkan sumber daya alam.
Pembangunan yang tidak meminggirkan rakyat, masyarakat adat, dan pedalaman. Pembangunan yang berkeadilan.
“Rakyatlah yang hidup di gunung-gunung, di desa-desa, di sepanjang pesisir pantai, di sudut-sudut kota yang padat dan pengap. Jika banjir melanda, longsor tejadi, kekeringan melanda, rakyatlah yang pertama menjadi korban,” tutupnya. (lna)

Leave a Reply