
JoSS, BANTUL – Jika mendengar atau membaca kulit buah rambutan, kulit kayu mahoni, sabut kelapa, serbuk gergaji kayu nangka, dan daun alpukat, pasti ingatan kita akan terbayang itu bahan yang tak berguna alias sampah.
Akan tetapi tidak bagi pasangan suami istri, Dedi H Purwadi dan Wineng Endah Winarni. Mereka memanfaatkan bahan yang dianggap sampah itu sebagai pewarna batik berkualitas tinggi tetapi ramah lingkungan.
Namanya kulit buah Jolawe (Terminalia Bellirica) dan kemudian menjadi brand ciptaan mereka. Menurut Dedi, biasanya bahan-bahan tadi direbus untuk jamu. Tetapi baginya digunakan sebagai pewarna batik. Bahan ini aman dan tidak akan meracuni tubuh.
“Selama proses pembuatan limbahnya tidak akan meracuni lingkungan,” kata Dedi, seperti yang dilansir dari titiktemu.id, Sabtu (30/3).
Baca juga: Batik Motif Jokowi Dicari Pembeli, Berkah Pemilu 2019
Pria yang tinggal bersama istrinya di Kampung Kalangan, Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, Bantul ini, mengawali bisnis di rumahnya yang kecil tetapi artistik.
Dia sudah merintisnya sejak tujuh tahun silam. Sebelumnya dia belajar membatik dari istrinya. Tetapi di tengah jalan dia memutuskan untuk beralih menggunakan pewarna alami.
Pewarna alami umumnya diperoleh dengan cara merebus bahan organik yang kemudian digunakan untuk mencelup. Dedi pun menemukan fakta, alam menyediakan bahan pewarna sangat berlimpah-ruah. Hingga kini, dia menemukan keasyikan bereksperimen.
Ratusan carik kain mori seukuran sapu tangan, dia gunakan untuk mencoba bahan-bahan baru yang terkadang membuatnya terkejut.
Misalnya ketika dia melihat air yang digunakan untuk merebus pisang berubah warna, ternyata bisa digunakan untuk mewarnai kain.
Juga serbuk gergaji kayu nangka, saat digunakan mewarnai kain katun akan keluar warna kuning. Namun ketika digunakan pada kain sutera, hasilnya adalah warna kuning keemasan yang sangat mewah.
“Saya memang sedikit bisa melukis, tapi tidak biasa membatik motif klasik. Justru dengan itu saya manfaatkan untuk menciptakan motif-motif baru yang bersumber dari alam sekitar. Ada motif daun bambu, ikan koi, atau sekadar pola-pola geometrik seperti ini,” ujarnya, menunjukkan beberapa lembar karyanya.
Bukan hanya keunikan motif dan pewarnaan alami yang ditawarkan Batik Jolawe. Dedi mengaku, seluruh produknya dibuat tunggal. Karena menurutnya, terlalu banyak kreasi yang bisa dibikin dengan motif yang begitu bebas dan bahan pewarna yang sangat beragam.
“Kalau mau dibuat banyak, misalnya untuk baju keluarga, ya orang bisa pesan. Tapi batik alam seperti ini memang tidak bisa dibuat massal. Membuatnya relatif lebih lama. Praktis kami tidak bisa menyimpan stok berlebih, karena menjualnya lebih cepat ketimbang proses pembuatan,” tuturnya.
Karena alasan itu juga, Batik Jolawe tidak punya showroom, selain yang ada di blog dan media sosial. Bahkan rumah tinggal yang merangkap workshop pun tidak dipasangi papan nama. Dedi mengaku takut konsumen kecewa, sebab dia tidak banyak menyimpan produk siap jual.
Tertarik berbisnis seperti Dedi? Batik Jolawe juga membuka kelas untuk kursus membuat batik alami. Durasi waktu belajar mulai dari sehari, tiga hari hingga sepekan. Hubun saja 0813 2878 2156. (nug/lna)

Leave a Reply