JoSS, Solo – Pengamanan seorang kepala negara merupakan operasi militer yang tidak bisa berulang, sehingga para pasukan pengaman presiden (Paspampres) harus ekstra waspada, teliti dan memiliki pertanggung jawaban yang besar.
“Ya disebut tidak bisa diulang karena kalau sampai ada kesalahan sedikit, misal ada teroris menyusup habislah kita, tapi itu tidak boleh terjadi kalau semua dipersiapkan dengan tingkat kewaspadaan tinggi,” ujar Danpaspampres yang baru Mayjen TNI Maruli Simanjutak saat berada di Solo, Minggu (2/12).
Diakui oleh mantan Danrem 074/ Warastratama Surakarta yang berhasil menyabet penghargaan sebagai Danrem terbaik seluruh Indonesia tahun 2016, di era Presiden Jokowi ini ada fleksibilitas protokoler kepresiden, agar Presiden Jokowi lebih leluasa ‘blusukan ‘serta menerima rakyat yang akan menemuinya atau menyampaikan aspirasinya.
Ditegaskan Maruli , Paspampres yang kini jumlahnya mencapai sekitar 3.000 personil itu merupakan alat pengaman Presiden.
“Jangan salah mengartikan lho,Paspampres itu diatur oleh Presiden,Paspamres juga tidak berwenang membatasi kegiatan presiden,” ujar alumni Akademi Militer Angkatan 1992 yang kariernya dijuluki the rising star karena di kalangan angkatan 1992 baru Maruli yang berhasil menyandang pangkat jendral bintang dua itu.
Mayjen Maruli menegaskan pengamanan kepala negara yang merupakan simbul negara tetap sesuai standart operating prosedur (SOP) namun lebih humanis.
“Jadi rekan-rekan media yang meliput kegiatan bapak presiden dimohon mafhum untuk mentaati prosedur misal melengkapi dengan ID Card terbaru, berpakaian sopan jangan pakai sandal gunung misalnya,” ujarnya.
Mayjen Maruli mengakui ikut bersimpati terhadap keinginan awak media yang akan melakukan doorstop wawancara dengan Presiden terkait issue terkini di lokasi sebuah acara.
Baca juga: Musik Reggae Jadi Warisan Budaya
“Tapi mohon mafhum memang secara standar operating prosedur (SOP) orang yg berdekatan dengan presiden harus memiliki perangkat tertentu seperti ID card, pertimbangan waktu, selain itu ya wartawan agar penampilannya rapi,” ujar mantan Kasdam IV / Diponegoro.
Menurut Mayjen Maruli jajaran TNI termasuk yang bertugas di Paspampres terus ditingkatkan kualifikasinya.
“Perkembangan situasi dunia, termasuk ancaman terhadap kepala negara di berbagai negara yg merupakan simbul negara, muncul berbagai corak dan modus operandinya terus kita analisa dan pelajari untuk preventif penanganan pengamanan kepala negara termasuk tamu negara yang masuk dalam kewenangan tugas Paspampres.” paparnya.
Ditambahkan di tahun politik 2019 tugas pengamanan kepala negara/ kepala pemerintahan bertambah berat, namun hal itu tidak masalah kalau sebelumnya dilakukan perencanaan matang, eksekusi pelaksanaan dengan mempertimbangan berbagai faktor dengan prioritas kewaspadaan tinggi.
“Intinya di tahun 2019 yang merupakan tahun politik, institusi Paspampres terus meningkatkan kewaspadaan agar tugas,-tugas kenegaraan yg diberikan terhadap Paspampres lancar dan sukses,”ujar mantan Komandan Grup A Paspampres itu. (ton/lna)

Leave a Reply