Pedagang Enggan Berpindah, Rekonstruksi Pasar Mebel Nusukan Terhambat

pasar mebel nusukan
Pasar Mebel Nusukan | Foto: google

JoSS, SOLO – Pemerintah Kota Solo kesulitan untuk merekonstruksi Pasar Mebel Nusukan, Banjarsari,  Solo. Pasalnya sebagian pedagang masih melakukan penyelesaian tahap akhir produksi (finishing) di dalam pasar dan tidak mau direlokasi.

Seperti diketahui, Pasar Mebel Nusukan ini terbakar pada 2014 lalu. Sejak itu, pedagang mebel menggunakan lapak-lapak darurat untuk berjualan dan mengerjakan sebagian tahapan produksi di lokasi yang sama.

Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Solo, Subagiyo mengatakan sikap pedagang itu justru sangat membahayakan untuk kelangsungan usahanya. Karena proses finishing di dalam pasar mebel dapat menimbulkan bahaya kebakaran.

Dia menambahkan idealnya proses finishing mebel tidak dilakukan di dalam pasar. “Resikonya bisa terbakar terus kalau finishing-nya di lokasi yang sama,” kata Subagiyo, yang dilansir dari solopos.com, Minggu (14/4).

Meski demikian, dia mengaku sudah memasukkan rencana pembangunan kembali Pasar Mebel tersebut  pada 2020 nanti. “Sudah. Sudah saya masukan ke dalam anggaran 2020 untuk pembangunan Pasar Mebel,” tambahnya.

Sebelumnya, Wali Kota Solo, FX Hadi Rudyatmo, mengajukan bantuan anggaran untuk pembangunan kembali Pasar Mebel yang terbakar pada 2014 lalu ke Gubernur Jawa Tengah (Jateng). Pemkot Solo membutuhkan anggaran sekitar Rp25 miliar untuk pembangunan pasar tersebut.

Baca juga: Waduh, Hampir Separo Hydrant di Solo Rusak

Rudy (panggilan akrab Wali Kota Solo) mengatakan, pasar mebel yang berlokasi di Kelurahan Nusukan, Kecamatan Banjarsari, itu bakal dibangun dua lantai.

Lantai pertama untuk proses produksi, sementara lantai dua sebagai ruang pameran atau showroom. “Kami ajukan untuk 2020, belum tahu akan disetujui Pak Gubernur atau tidak, karena perbaikan pascakebakaran dulu itu enggak bisa dibilang bangunan baru karena tambal sulam. Kalau dibangun baru artinya dirobohkan semua bangunan yang lama,” kata dia.

“Kami ajukan untuk 2020, belum tahu akan disetujui Pak Gubernur atau tidak, karena perbaikan pascakebakaran dulu itu enggak bisa dibilang bangunan baru karena tambal sulam. Kalau dibangun baru artinya dirobohkan semua bangunan yang lama,” kata Rudy.

Pembangunan pasar mebel itu telah mengemuka sejak 2016 lalu. Kendati begitu, anggaran daerah yang terbatas juga kendala.

Subagiyo mengatakan, pembangunan pasar mebel butuh anggaran Rp25 miliar lantaran memakai bahan kontruksi anti api. “Kusen, tembok, belandar, semuanya menggunakan bahan antiapi seperti besi dan baja ringan,” pungkasnya. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*