
JoSS, BANJARNEGARA – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo berjanji akan segera membangunkan kembali keberadaan jembatan gantung yang menghubungkan Banjarnegara – Wonosobo yang sempat hanyut terseret arus pada tahun 2014 silam.
Hal itu dikatakan Ganjar saat meninjau jembatan gantung bersama Wagub Taj Yasin Maimoen. Ganjar pun langsung meninjau dan melintasi jembatan yang bergoyang-goyang saat dilintasi itu dari wilayah Banjarnegara.
Dirilis Tribunjateng.com, sambil bercanda, Ganjar mengatakan tidak lebih dari satu menit bagi dirinya untuk tiba di Wonosobo.
Begitu menginjakkan kaki di desa Jeben Plampitan, warga pun langsung bersorak menyambut gubernur berambut putih itu.
Setelah berebut salaman dan selfie, warga langsung menyampaikan keluhannya, menginginkan jembatan baru.
Baca juga: ASN Terindikasi Paham Radikal, Ganjar: Akan Saya Awasi
“Kalau dari Pemkab beberapa kali ke sini dan jembatan belum juga jadi, saya pastikan jika gubernur yang ke sini pasti beres,” kata Ganjar.
Ganjar juga memberi penjelasan pada warga, bahwa pembangunan tidak langsung bisa dikerjakan karena harus masuk dalam penganggaran APBD.
Namun ada alternatif lain yang bisa lebih cepat, yakni dengan anggaran pascabencana dari BNPB.
“Nanti kita atur, kalau menggunakan APBD provinsi harus menunggu tahun depan atau paling cepat pada anggaran perubahan. Tapi ada yang lebih cepat, yakni menggunakan dana pascabencana,” katanya.
Pertimbangan lain adalah jika membangun ulang jembatan gantung anggaran yang dibutuhkan sebanyak Rp 600 juta dan itu bisa menggunakan APBD provinsi.
Sudah lima tahun warga Dusun Jeben Desa Plampitan Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Wonosobo kehilangan akses utama menuju kampung halamannya setelah jembatan gantung di desa setempat hanyut terseret banjir 2014 silam.
Mereka pun harus memutar melewati jalur alternatif berjarak 10 km untuk mobilitas keseharian.
Jembatan gantung tersebut melintang di atas sungai sepanjang 67 meter dan menjadi akses utama antara Desa Larangan Kecamatan Pagutan, Kabupaten Banjarnegara dan Jeben Plampitan Sukoharjo Wonosobo.
Namun untuk pemanfaatannya, masyarakat Jeben Plampitan-lah yang sering menggunakan untuk akses pertanian, sekolah maupun ke pasar karena mereka aksesnya lebih dekat ke Banjarnegara.
“Ambrol karena banjir 2014 dulu. Terpaksa kalau mau belanja, sekolah atau ke ladang muter jauh,” kata Nardi, warga Jeben Plampitan, belum lama ini.
Karena tidak tega melihat anak-anak sekolah dan ibu-ibu ke ladang harus berputar jauh, kata Nardi, warga akhirnya secara swadaya membangun jembatan darurat dari bambu dengan penyangga susunan batu.
Namun jembatan itu pun tidak mampu bertahan lama, apalagi jika memasuki musim penghujan.
“Sepanjang 2019 ini saja sudah ganti sebanyak 10 kali. Selain rusak ya karena terseret arus sungai saat hujan. Dari Pemkab beberapa kali ke sini, tapi tidak juga diperbaiki,” katanya. (Wiek/lna)

Leave a Reply