Waduh, Hampir Separo Hydrant di Solo Rusak

JoSS, SOLO – Sebanyak 48 hydrant dari total 103 hydrant di kota Solo dalam kondisi rusak. Demikian hasil pengecekan hydrant tanam dan pilar oleh Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Solo.

Menurut Kepala Seksi Sarana dan Prasarana Dinas Damkar Solo, Joko Susilo, pihaknya sudah memetakan hydrant yang rusak di Solo. Menurutnya, hydrant yang sudah tidak berfungsi paling banyak di wilayah Solo bagian tengah.

Dia menambahkan, hal tersebut lantaran jaringan pipa yang terlalu panjang di Solo bagian tengah.

“Sudah ada pemetaan untuk melihat mana yang rusak. Yang di Solo bagian tengah ini kemungkinan karena jaringan pipa PDAM [Perumda Toya Wening] yang terlalu panjang. Jadi, tekanan air di hilir terlalu rendah untuk memfungsikan hydrant dengan baik,” kata Joko Susilo, seperti yang dilansir dari solopos.com, Sabtu (13/4).

Joko mengatakan, di Solo total ada 103 hydrant yang terdiri dari 46 hydrant tanam dan 57 hydrant pilar. Dari 46 hydrant tanam ada 27 hydrant yang masih berfungsi dengan baik. Sedangkan dari 57 hydrant pilar hanya 21 yang berfungsi baik saat dibutuhkan.

Selain rusak, hydrant tanam juga sulit digunakan saat dibutuhkan. Petugas damkar harus membongkar balok beton terlebih dulu sebelum memfungsikan hydrant tersebut. Hal ini berakibat waktu yang terbuang dan menguras tenaga personel Damkar.

Baca juga: Perbaikan Rumah Tak Layak Huni di Solo Baru 7% Dari Target 7.236 Unit

“Personel akan terkuras tenaganya sebelum melakukan penyelamatan,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Damkar Solo Gatot Sutanto mengatakan, kegiatan pengecekan hydrant merupakan kegiatan rutin tahunan. Pengecekan tersebut dilakukan setiap perubahan musim dari hujan ke kemarau.

Selain itu, Gatot menjadwalkan pengecekan bersama dengan Perumda Toya Wening. Hal ini lantaran fungsi hydrant di ruang publik Solo merupakan wewenang Perumda Toya Wening.

“Pengecekan di tahun-tahun sebelumnya biasanya hanya kami sendiri. Tapi kali ini, kami akan berkoordinasi dengan Perumda Toya Wening mengenai hydrant yang rusak. Damkar hanya pengguna. Wewenang pasokan air ada di Perumda Toya Wening,” kata dia.

Selain itu damkar kota Solo juga memetakan lokasi hidran. Sebab menurut Gatot, hidran perlu disebar di berbagai lokasi. Terutama yang memiliki potensi kebakaran. Termasuk permukiman padat. (nug/lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*