
JoSS, SEMARANG – Gladian Sejarah Pemuda Indonesia (GSPI) dilaksanakan untuk mencari persoalan bangsa, sekaligus untuk mengenalkan keberagaman daerah dan budaya.
Demikian paparan Deputi Bidang Koordinasi Kebudayaan Kemenko PML, Nyoman Shuida, di pembukaan GSPI 2019 yang berlangsung di Gradhika Bhakti Praja Semarang, Kamis (4/4).
“Kita melihat sekarang problem bangsa ini mayoritas karena toleransi, narkoba dan pergaulan bebas. Untuk itu kita menginginkan peserta GSPI nantinya menjadi agen-agen perubahan ketika pulang di daerahnya masing-masing. Sekaligus menularkan nilai-nilai karakter dan kebudayaan,” kata Nyoman Shuida, sesuai yang dilansir dari AyoSemarang,com, Kamis (4/4).
Selain itu, lanjut Nyoman, GSPI di kota Semarang adalah yang pertama kali digelar. Selanjutnya acara ini akan menjadi event tahunan yang diselenggarakan di kota-kota lain secara bergantian.
Baca juga: Hendi: Pemuda Jangan Menggantungkan Diri Jadi ASN
“Nantinya para pemuda itu akan disebar dan tinggal di rumah-rumah penduduk untuk berinteraksi dan melakukan sosialisasi. Kemudian mereka akan diajak ke tempat-tempat yang inspiratif,” imbuhnya.
Sementara Wakil Wali Kota Semarang, Hevearita G Rahayu, mengapresiasi acara Gladian Sejarah Pemuda Indonesia (GSPI) ini yang akan berlangsung hingga 7 April 2019. Nantinya sekitar 750 peserta akan ditempatkan di 55 kelurahan pada 16 kecamatan.
“Makanya saat acara pembukaan GSPI saya ajak para camat dan lurah untuk ikut. Karena nanti ada penyerahan peserta ke camat dan lurah. Ini merupakan program pertama kali yang digelar Kemenko PMK dan Kemendikbud yang dilangsungkan di Semarang. Tentu kami sangat bangga,” ujarnya.
Ita sapaan akrabnya menerangkan, peserta yang terpilih mengikuti kegiatan tersebut tentunya adalah pemuda pilihan. Apalagi ada peserta dari perwakilan Papua dan Aceh.
Nantinya para pemuda tersebut akan berinteraksi langsung dengan warga dan beberapa kunjungan inspiratif. Menurutnya, GSPI merupakan pertukaran yang luar bisa dan menjadi program revolusi mental bagi generasi milenial.
“Ini akan jadi wadah kegiatan yang baik bagi para pesertanya. Selama empat hari mereka bisa memanfaatkan waktu untuk bersama-sama belajar dan bermasyarakat. Nanti tentunya mereka akan ada kunjungan ke tempat-tempat wisata di Kota Semarang,” imbuhnya.
Ita menambahkan, pihak Pemkot sudah berkoordinasi atas terselenggaranya acara tersebut. Pihaknya mendukung penuh agar nantinya para peserta mendapatkan pembelajaran dan pengalaman baru di Kota Semarang. (nug/lna)

Leave a Reply