Tanah Retak Hantui Warga Dusun Sangiran

dusun sangiran
Ilustrasi | Foto: google

JoSS, SRAGEN – Warga Dusun Sangiran RT 012, Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe, Sragen, dihantui kekhawatiran terjadinya longsor menyusul munculnya retakan tanah yang terus bertambah dan merusak bangunan rumah warga sejak dua tahun terakgir.

Menurut penjelasan Mukini, warga setempat, kondisi itu makin parah saat musim penghujan tiba. Potensi longsor itu ditandai munculnya retakan tanah sepanjang sekitar 500 meter hingga merusak bangunan tujuh rumah warga setempat. Retakan tanah muncul di lantai dan dinding rumah warga.

“Retakan itu bertambah seiring datangnya musim penghujan kali ini. Kerusakan paling parah terjadi di rumah Bu Daliyem, Pak Ari Sukisto, dan Atmo Wainah. Sementara Mbah Satiyo Narsi memilih pindah tempat tinggal karena rumahnya sudah rusak parah,” jelasnya, seperti dikutip dari Solopos.com di lokasi, Kamis (14/3).

Sebelumnya, rumah Mukini juga retak-retak cukup parah. Ia lalu membangun rumahnya dengan memperkuat fondasi. Namun, dinding rumahnya mulai retak-retak seiring datangnya musim penghujan kali ini.

Di rumah Daliyem, retakan tanah nyaris membelah lantai rumah menjadi dua bagian. Retakan tanah selebar 10-20 cm itu muncul di ruang tengah. Supaya tidak membahayakan dirinya dan keluarganya, Daliyem terpaksa menyumbat retakan tanah itu dengan pakaian bekas.

Baca juga: Awas 6 Kelurahan Ini Rawan Longsor

Ia lalu menutup retakan tanah itu dengan kardus bekas dan tikar. “Tanah di bagian emperan juga sudah ambles. Tapi, kami tidak tahu harus bagaimana. Rumah kami sudah berkali-kali disurvei petugas, namun sampai sekarang juga tidak ada solusi kami harus bagaimana,” ucapnya.

Tim dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Bandung sudah meninjau retakan tanah di Dusun Sangiran pada 2017 lalu. Akan tetapi, hingga kini belum ada langkah konkret untuk menanggulangi potensi tanah longsor di kawasan itu.

Kades Krikilan, Widodo memberikan solusi sementara, warga diminta membendung aliran air hujan supaya tidak terkonsentrasi di tanah yang rawan longsor. Menurut dia ini problem dengan skala besar, dan membutuhkan dana yang cukup besar.

“Kami selalu minta arahan dari BPBD Sragen dan Dinas PUPR. Kalau mau dibangun talut butuh dana besar. Kalau mau direlokasi, rasa-rasanya kok belum memungkinkan. Belum ada gambaran warga harus dipindah ke mana. Relokasi tentu juga butuh besar,” jelasnya.

Widodo menjelaskan kontur tanah di wilayah Kalijambe, terutama Desa Krikilan, Bukuran, dan Ngebung memang labil. Tanah di tiga desa itu mudah bergerak saat musim penghujan. Hal itu berakibat munculnya retakan di bangunan rumah dan jalanan berlapis beton. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*