Awas 6 Kelurahan Ini Rawan Longsor

rawan longsor
Tim gabungan SAR saat mengevakuasi korban tanah longsor di Banyumanik yang terseret aliran Kali Pudakpayung sejauh 10 Km. | Foto: gus/joss.co.id

JoSS, SEMARANG – Sebanyak enam kelurahan di Kecamatan Gajahmungkur merupakan daerah rawan bencana longsor. Enam kelurahan tersebut meliputi Lempongsari, Gajahmungkur, Bendanduwur, Bendanngisor, Bendungan, dan Petompon.

Menurut Camat Gajahmungkur Bambang Pramusinto, pihaknya telah membentuk kelurahan siaga bencana. Selain itu juga menyusun program tanggap bencana di kelurahan-kelurahan rawan longsor.

“Saat ini, kami telah merencanakan program siaga bencana berbasis masyarakat (Sibat). Ini dapat untuk mengantisipasi bencana longsor serupa di Petompon pekan lalu,” terangnya kepada JoSS.co.id di Semarang, Selasa (12/2).

Dijelaskan, pihaknya juga akan mengusulkan anggaran untuk mengadakan pelatihan kebencanaan. Selain itu juga membuat beberapa fasilitas umum yang bisa mendukung kegiatan antisipasi bencana.

Bambang berharap nantinya akan terbentuk sistem dan pola, sehingga diharapkan masyarakat memiliki kemandirian untuk penanggulangan bencana.

“Misal terjadi longsor, siapa yang harus dihubungi, lalu ketika harus mengungsi jalurnya mana. Masyarakat sudah pada tau itu,” paparnya.

Selanjutnya, dia menyarankan untuk warga sekitar agar mengaktifkan kegiatan Poskamling hingga pagi. Terlebih saat musim-musim seperti ini, menurutnya, bencana longsor kerap terjadi.

“Bencana longsor kerap terjadi pada dini hari, saat orang sedang pada tidur sehingga rawan menelan korban. Poskamling saya minta untuk diaktifkan kembali. Tidak hanya untuk jaga keamanan tapi juga untuk sarana antisipasi longsor,” imbuhnya.

Baca juga: Longsor di Tumpang Hendi Ingatkan Warga Lebih Waspada

Sementara itu, lanjut dia, selain membuat kelurahan siaga bencana pihaknya juga ingin menginisiasi untuk membentuk sebuah komunitas antisipasi bencana sebagaimana komunitas yang dibentuk di Kelurahan Bendanduwur di bawah naungan Palang Merah Indonesia (PMI).

“Itu di bawah supervisinya PMI, berupa komunitas antisipasi bencana berbasis masyarakat. Rencana beberapa kelurahan lain juga akan saya buat seperti itu,” tandasnya

Di sisi lain, tim gabungan yang terdiri dari Basarnas Jateng, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPPD) Kota Semarang, Damkar, Polsek dan Koramil Banyumanik serta Buser dan Ubaloka berhasil menemukan korban longsor yang terseret arus Kali Pudakpayung. Sri Murtini (45) warga RT 06/07 Kelurahan Pudakpayung, menjadi korban tanah longsor yang kemudian terseret arus sejauh 10 Km.

Menurut Kepala Basarnas Jateng Aris Sofingi, hujan deras yang mengguyur kawasan Banyumanik Senin siang, menyebabkan Kali Pudakpayung meluber. Luapan air menggerus tanah di pinggiran bantaran sungai yang mengakibatkan satu orang tertimbun tanah longsor.

“Namun karena derasnya arus, korban terseret dan baru ditemukan Selasa siang tadi sejauh radius 10 Km,” terangnya.

Dijelaskan, sekitar pukul 14.30 WIB terjadi bencana tanah longsor yang menimpa kios salon TIN. Di dalam rumah ada penghuninya dimana diduga korban ikut tertimbun tanah longsor maupun terbawa arus sungai Pudakpayung

Korban ditemukan setelah tim SAR gabungan melakukan pencarian mulai dari bawah longsoran dilanjutkan dengan menyisir aliran sungai. Usai ditemukan, korban berhasil dievakuasi selanjutnya korban di bawa ke rumah duka. (gus/lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*