[widget id="text-5"]

Pecinta Satwa Eksotik Disarankan Rawat Reptilnya Sealami Mungkin

pecinta satwa eksotik
Dr Drh Slamet Raharjo MP saat memberikan paparan | Foto: dok

JoSS, UNGARAN – Dr drh Slamet Raharjo MP, spesialis hewan eksotik dan dosen Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gajah Mada (UGM) Jogjakarta menyarankan, agar para pecinta satwa eksotik (reptiler) memelihara reptil-reptilnya sealami mungkin, menyusul masih banyaknya kasus penyakit hewan eksotik yang tidak diketahui jenis penyakitnya oleh pemiliknya.

Beragam jenis hewan yang dijadikan koleksi para reptiler itu misalnya iguana, ular, kura-kura, burung langka, sampai buaya. Deretan reptil itu, kata Slamet Raharjo, adalah hewan yang suhu tubuhnya menyesuaikan suhu lingkungan. Kondisi ini menjadikan sistem imun, kekebalan tubuh.

“Bagi reptiler pemula, jika hewan perliharaannya sakit pasti dibawa dokter hewan, dan dokter pun hanya menyarankan agar para reptiler harus memperhatikan lingkungan. Bahwa di sini menandakan, perlu adanya manajemen perawatan berdasarkan lingkungan yang sehat,” katanya.

Seluk beluk pemeliharaan dan perawatan reptil yang merupakan binatang eksotik (exotic animal) dikupas tuntas oleh Dr drh Slamet Raharjo MP pada seminar Eka Farma Perawatan dan Penanganan Dasar Penyakit Reptil mendapat sambutan antusias para pehobi reptil, Selasa (26/3) malam.

Baca juga: Untung Penghuni Baru Taman Jurug Yang Lagi Ngehits

Seminar yang berlangsung di Ruang Teater Dreamlight World Media, Ungaran, Kab Semarang ini tidak saja dihadiri oleh reptiler dari komunitas, tapi juga mahasiswa peternakan, dan para dokter hewan yang tergabung dalam PDHI (Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia) Cabang Jawa Tengah I.

Maka saran Slamet Raharjo, peliharalah reptil-reptil kita itu sealami mungkin. Manajemen pemeliharaan dengan memperhatikan faktor lingkungan seperti suhu udara sangat utama untuk meminimalisasi penyakit-penyakit hewan khususnya untuk hewan eksotik sangat penting.

“Suhu ideal untuk reptil vivarium idealnya 25 -30 derajad C, dengan kelembaban 30/6 persen. Pemberian ultraviolet light tidak perlu, karena di Indonesia beriklim tropis dan sangat cukup sinar matahari. Tapi pemberian lampu bisa saja bisa, terutama untuk malam hari,” demikian Slamet Raharjo.

Problem utama kesehatan reptil banyak dibicarakan dalam seminar ini. Misalnya kasus reptil mogok makan itu sangat biasa. Tidak makan itu bisa berhari-hari, berminggu-minggu dan bahkan berbulan bulan. Obat dokter saja tidak cukup, karena ternyata harus ada manajemen dalam cara pemeliharaannya. Seusai seminar banyak reptiler yang berkonsultasi lengkap dengan membawa hewannya. (wid) 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


[widget id="text-3"]