Ketua KPU Kerap Abaikan Berita Hoax

berita hoax
Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU), Arief Budiman | Foto: google

JoSS, SEMARANG – Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU), Arief Budiman, mengaku kerap menerima berita hoax. Akan tetapi banyaknya berita hoax yang diterimanya, justru diabaikan. Hal itu disampaikannya saat menghadiri Seminar Nasional Prospek Demokrasi Elektoral Indonesia dalam Penyelenggaraan Pemilu tahun 2019 di Balai Kota Semarang, Selasa (19/3).

Meski mendapat serangan berita hoax dan kerap dia abaikan, namun ada juga yang membuatnya sakit hati hingga mengambil tindakan. Seperti kabar sudah tercoblosnya surat suara untuk pemilu 2019 sebanyak tujuh kontainer.

“Saya sakit hati itu. Kalau kontainer berisi surat suara kan saya perintahkan. Saya marah betul. Ini keterlaluan. Kemudian saya laporkan ke polisi. Sudah lapor, malah dibilang lebay,” ujar Arief, seperti yang dilansir dari solopos.com.

Bukan hanya itu, berita hoaks juga pernah menyerang pribadi Arief. Saat itu, Arief dikabarkan merupakan saudara kandung mendiang aktivis Soe Hok Gie, sehingga diragukan netralitasnya. Arief memang memiliki nama yang sama dengan kakak kandung Soe Hok Gie, yakni Arief Budiman, yang kini tinggal di Australia.

Meski demikian, ia tidak memiliki pertalian darah dengan keluarga Soe Hok Gie. Menanggapi hal itu, ia pun membuat klarifikasi melalu media sosial yang disertai dengan meme.

Baca juga: PWI Diharap Mampu Mengedukasi Masyarakat Dari Berita Hoax

“Saya tidak marah, saya biarkan. Bikin saja keterangan. Karena ini era milenial, saya bikin klarifikasi di medsos dan melalui meme. Nama sama tapi orangnya beda,” ujar Arief.

Berita hoax lain yang diterima adalah tudingan KPU mendata orang gila. Arief kemudian menjelaskan bahwa yang didata KPU adalah orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) dan bukan orang dengan penyakit gila yang sudah tidak bisa mengenali diri sendiri.

“Yang kami data bukan orang gila yang di pinggir jalan, yang tidak pakai baju, mengenali diri tidak bisa. Bukan itu. Kalau lihat wajah kalian mungkin masuk (ODGJ), banyak utang, putus pacar, ribut dengan suami, jangan dikira, kalau saya diperiksa psikiater mungkin masuk ODGJ. Saya jam 01.00 [WIB] belum bisa tidur itu termasuk ODGJ,” jelasnya.

Dia menyayangkan beredarnya berita hoax. Meski demikian, Arief lebih menyayangkan para pelakunya. Menurutnya, para penyebar hoaks mau pun pelaku peretasan yang mengincar website KPU tergolong masih muda. Bahkan beberapa di antara mereka merupakan pelajar SMA.

“Yang lebih merisaukan itu bukan berita hoax-nya, tetapi pelakunya. Yang sebar dan meng-hack, sebagian anak-anak SMA. Anak-anak kita yang pintar itu melakukan hal seperti itu. Siapa yang ajarkan?” ujar Arief.

Serangan hoax atau peretasan, lanjut Arief, memang banyak yang didiamkan atau dilawan melalui klarifikasi di media sosial. Meski demikian, jika sudah mengarah ke perbuatan tercela dan mengganggu proses pemilu, ia pun tak segan melaporkan ke aparat kepolisian.

“Saya tidak pernah marah. Tapi, ketika ada hal penting dan substansial mengganggu pemliu, ya kita lawan,” ujarnya. (nug/lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*