JoSS, JOGJA – Selama ini pasar dianggap menjadi tempat yang layak untuk pembuangan kucing.
Salah satu anggota Peduli Kucing Pasar, Sari Yuniati (50), berdirinya komunitas ini tak lepas dari sosok bernama Nana Kiswandari yang turut bergabung dalam komunitas Animal Friends Jogja. Nana pertama kali memberi makan kucing-kucing kelaparan di Pasar Beringharjo, Jogja.
“Kemudian dia berpikir, dalam satu pasar saja waktu itu ada 40 kucing terlantar. Bagaimana kalau di pasar lain? Open volunteer (rekrutmen terbuka sukarelawan) untuk memberi makan kucing-kucing pasar pun dibuka di Facebook dan ternyata responsnya luar biasa,” kata Sari, seperti dikutip dari HarianJogja.com, belum lama ini.
Sari Yuniati menambahkan, masih banyak pedagang yang berlaku kasar pada kucing-kucing buangan. Mereka tidak mau memberi kucing-kucing itu makan. Sehingga mereka akan melahap habis tikus-tikus pasar yang penuh virus.
Hal itu menyebabkan mereka terserang berbagai penyakit dan akhirnya mati mengenaskan.
“Maka sudah tugas kami setiap sehari sekali memberi makan kucing di pasar. Biasanya dengan makanan bikinan kami sendiri, seperti nasi campur pindang, atau dry cat food yang dicampur wet cat food. Jadi ketika kucing kenyang, dia hanya menakuti tikus pasar agar tidak merusak dagangan, tikusnya tidak dimakan. Win win solution. Kami mengajak masyarakat umum gabung ke Peduli Kucing Pasar,” kata Sari.
Tak disangka, di Jogja banyak individu-individu dari berbagai usia yang telah lama berkeliling dari satu pasar ke pasar lain untuk memberi makan dan merawat kucing terlantar.
Adanya Komunitas Peduli Kucing Pasar menjadi wadah mereka. Tak sampai satu bulan, puluhan sukarelawan terkumpul dan pasar yang dijangkau ada 25 pasar.
Baca juga: Komunitas Lima Gunung Resmikan Museum
Sari mengatakan dia dan para anggota tak ingin mempublikasikan pasar yang biasanya didatangi oleh mereka, sebab menurutnya ada beberapa masyarakat yang justru semakin sering membuang kucing ke pasar karena mengetahui fungsi komunitas ini.
Padahal, komunitas ini juga memiliki tugas mengedukasi masyarakat agar berkomitmen merawat kucing yang sudah mereka putuskan untuk dipelihara.
“Kami juga berinteraksi dengan para pedagang pasar agar memberi kucing dengan makanan yang layak. Misalnya ada sisa tulang ayam, kasih lah ke kucing. Sejauh ini efektif, bahkan mereka [pedagang pasar] turut melapor ke kami kalau ada kucing baru yang dibuang atau kucing yang hilang,” kata Sari.
Ada beberapa kondisi yang memungkinkan anggota membawa pulang kucing pasar ke rumah masing-masing untuk penyelamatan.
Contohnya apabila ada anak-anak kucing yang dibuang, padahal mereka masih membutuhkan tempat nyaman dan susu untuk dikonsumsi. Kemudian kucing yang sakit dan tidak mau makan sama sekali. (Wiek/lna)

Leave a Reply