
JoSS, MAGELANG – Komunitas Lima Gunung meresmikan Museum Lima Gunung di Studio Mendut Kabupaten Magelang, Selasa (5/2).
Museum ini menyimpan berbagai koleksi perjalanan mereka mengelola aktivitas berkesenian, menghidupi tradisi, dan berkebudayaan desa selama sedikitnya 17 tahun terakhir.
Dirilis Antaranews.com, peresmian Museum Lima Gunung di studio terbuka yang dikelola budayawan Magelang Sutanto Mendut di Magelang, Selasa (5/2), bertepatan dengan saat subuh itu, dihadiri sejumlah kalangan, terutama seniman, budayawan, pemerhati sosial, penulis, akademisi dari Magelang dan luar daerah itu.
Berbagai koleksi di museum itu, antara lain patung, topeng, wayang, lukisan, sejumlah kostum tarian, gamelan, alat musik, buku, foto, kliping pemberitaan berbagai media massa tentang aktivitas seni, tradisi, dan sosial budaya Komunitas Lima Gunung selama ini.
“Ini museum hidup yang akan terus dihidupi oleh komunitas. Museum ini menyimpan nilai hidup (Komunitas, red.) Lima Gunung. Kehidupan kami tidak sekadar seni,” ujar Sutanto Mendut yang juga pemimpin tertinggi Komunitas Lima Gunung (Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh) Kabupaten Magelang itu.
Peresmian museum juga bertepatan dengan HUT Ke-65 Sutanto Mendut dan perayaan Tahun Baru Imlek 2570/2019. Komunitas Lima Gunung selain berbasis para seniman petani di kawasan lima gunung yang mengelilingi Kabupaten Magelang, juga mereka lainnya dengan berbagai latar belakang kehidupan, baik yang tinggal di Magelang maupun luar daerah itu.
Sutanto mengemukakan museum itu bukan hanya mengoleksi hal yang bersifat material, barang mahal, atau berusia tua, akan tetapi juga menyimpan tentang cara berpikir dan nilai kehidupan komunitas itu.
Baca juga: Sanggaluri Park Purbalingga Kini Bisa Dikunjungi Pada Malam Hari
Ketua Komunitas Lima Gunung Supadi Haryanto mengatakan bahwa Museum Lima Gunung juga menjadi tempat berkumpulnya berbagai nilai atas pengalaman komunitas dalam menjalani gerakan bersenian, menjaga dan mengkreasi tradisi budaya, serta aktivitas sosial kemasyarakatan lainnya selama ini.
“Kami wujudkan menjadi museum. Di Lima Gunung ini tempat berkumpul berbagai kalangan dari mana pun dan apa saja, menyalurkan energi budaya dan inspirasi,” ujar dia.
Pemerihati budaya Haryadi S.N. mengemukakan Museum Lima Gunung merekam berbagai aktivitas yang dijalani komunitasnya.
“Museum ini menggambarkan kesadaran mental dan sejarah komunitasnya. Semoga museum ini merekatkan kerinduan masyarakat Nusantara untuk memeriahkan kerayaan Indonesia yang dahsyat ini,” katanya.
Pemerhati budaya lainnya, Toto Rahardjo, mengemukakan kalau suatu museum harus dibangun berpatokan pada kriteria tertentu, dikhawatirkan hal itu tidak akan melahirkan museum kerakyatan yang independen.
“Museum ini diharapkan tetap teguh, tanpa kriteria tertentu. Kalau harus terpaku kriteria maka tidak akan ada museum kebudayaan rakyat,” ucapnya. (Wiek/lna)

Leave a Reply