
JoSS, SEMARANG – Walikota Semarang Hendrar Prihadi berharap perayaan Imlek dan Pasar Imlek Semawis (PIS) semakin mengangkat nama Semarang dalam dunia pariwisata nasional. Terlebih, kondusivitas kota ini sangat terjaga.
Menurutnya, PIS 2019 menjadi bukti bahwa Semarang adalah kota yang aman dan nyaman. Karenanya, wisatawan tidak khawatir terhadap kondisi keamanan karena Pemkot bersama Kepolisian selalu menjaga kondisi positif ini meski Semarang terdiri dari berbagai suku, ras dan agama.
“Akulturasi budaya di Semarang sudah membuktikan adanya kondusivitas yang terjaga. Jangan khawatir plesiran ke Semarang,” terangnya kepada JoSS.co.id di sela pembukaan Pasar Imlek Semawis 2019, Jumat (1/2).
Hendi mengaku bangga dengan penyelenggaraan PIS ke-16 tahun ini. Ia yakin, kegiatan rutin ini akan membawa dampak positif bagi pariwisata Kota Lumpia.
Dijelaskan, Imlek diharapkan dapat memberikan rejeki yang banyak. Senada, hal itu akan berimbas positif pada wisata kota ini karena dapat mendatangkan wisatawan.
“Kondusivitas ini penting sekali. Percepatan pembangunan tidak akan akan dapat dilaksanakan. Tapi partipasi warga yang berbeda-beda ras, suku dan agama di Semarang sangat luar biasa. Mari kita jaga terus,” tandasnya.
Tema Waras (Warga Rukun Agawe Sentosa) yang diangkat dalam PIS 2019, merupakan wujud harmonisasi dan akulturasi budaya yang kondusif. Kondisi ini menjadikan wisatawan senang berkunjung ke Semarang dan sebagai efek dominonya, perekonomian warga akan terus bergulir positif.
Baca juga: Konstruksi Basement Alun-Alun Semarang Rampung Tahun Ini
Ketua Komunitas Pecinan Semarang untuk Pariwisata (Kopi Semawis) Haryanto Halim menyebut jika Pasar Imlek Semawis sudah menjadi identitas kota ini. Banyak warga dari luar kota yang datang, khusus menyaksikan perhelatan dalam menyambut datangnya Tahun Baru China tersebut.
Perhatian pemerintah disebutnya sudah sangat baik. Berbagai aksesibilitas serta infrastruktur sudah disiapkan.
Begitu pula banyaknya kemudahan dalam mengurus perizinan bagi investor serta usaha pariwisata. Hal ini berdampak positif bagi bergulirnya ekonomi warga dalam menyongsong era wisata digital seperti sekarang.
“Karenanya, kami concern terhadap budaya China yang sudah cukup langka. Dalam PIS ini kami hadirkan kembali seni tali temali dan gunting kertas khas China, wushu, wing chun (seni beladiri tradisional China), barongsai, catur gajah (Xiang Qi), wayang potehi hingga pengobatan khas China,” tuturnya.
Di sisi lain, jamuan Tok Panjang menjadi puncak pembukaan PIS 2019. Ratusan tamu undangan, memenuhi meja panjang dengan set dekor bercorak dominan merah.
Mereka disuguhi jamuan khas peranakan seperti Sup Lobak, Nasi Urap Bunga Telang yang berwarna biru serta Sup Ikan Patin. Jamuan ini khas dilakukan saat malam menjelang pergantian Tahun Baru China (Imlek) kepada tamu-tamu dari luar Pecinan. (gus/lna)

Leave a Reply