Indonesia Alami Supermoon Terbesar Hanya Terjadi 7 Tahun Sekali

tahun sekali
Ilustrasi | Foto: google

JoSS, JAKARTA – Fenomena alam supermoon Selasa (19/2) malam bukan hanya supermoon biasa, namun yang paling besar dan hanya terjadi tujuh tahun sekali. Di sejumlah daerah di Indonesia Supermoon nampak sempurna walau sedikit mendung. Puncaknya terjadi pada pukul 22.00 WIB.

Plt Kepala Dinas Pariwisata DKI Jakarta Asiantoro menyebut, secara umum masyarakat bisa menyaksikan fenomena supermoon di kawasan Monas, Ancol, atau Kepulauan Seribu. Akan tetapi, fasilitasi untuk pengamatan supermoon secara khusus biasanya hanya ada di TIM.

Masyarakat bisa melihat fenomena supermoon di Planetarium yang berada pada kawasan Taman Ismail Marzuki (TIM). Akan tetapi, pengurus TIM tidak menyediakan fasilitas berupa teleskop bagi masyarakat.

Kepala Humas TIM Eko Wahyu Wibowo berkata, fasilitasi tidak tersedia lantaran buruknya cuaca di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, sejal Selasa (19/2) sore. Padahal, pengurus TIM diklaim sudah mempersiapkan observasi supermoon sejak sore.

“Karena hujan kita tak bisa lakukan observasi. [Alatnya] standby di atas, tinggal buka kubah namanya teleskop takahashi. Cuma kan supermoon sebenarnya dari jam 16.00 WIB tadi, ini tinggal sisanya saja. Kebetulan harusnya tadi maghrib tuh pengamatan sudah siap-siap kita, alatnya disiapin, tapi karena hujan deras ya sudah,” kata Eko, kemarin.

Menurut Eko, biasanya pengurus TIM mempersiapkan teleskop kecil untuk digunakan masyarakat melihat fenomena alam seperti gerhana atau supermoon. Akan tetapi, hal itu tidak tersedia jika cuaca buruk terjadi.

Ketiadaan fasilitas untuk masyarakat juga disampaikan Humas Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Ertis Yulia Manikam. Dia menyebut masyarakat bisa melihat fenomena dari TMII, namun secara khusus pihak pengelola tidak menyiapkan fasilitas bagi mereka.

Baca juga: Hati-Hati 3 Minyak Ini Punya Sisi Buruk untuk Kesehatan

Supermoon merupakan keadaan ketika posisi bulan berada di jarak terdekat dengan bumi sehingga terlihat lebih besar. Biasanya, bulan berjarak 384.400 km. Malam ini jaraknya hanya 356.375 km. Maka dari itu, bulan tampak lebih besar dan terang daripada biasanya.

Saat terjadi supermoon, orbit bulan cenderung elips. Bukan bulat utuh. Hal itu menyebabkan adanya saat-saat di mana bulan berada di posisi terdekat dengan bumi. Titik terdekat dengan Bumi disebut dengan Peringee. Ukuran bulan terlihat 14% lebih besar daripada biasanya. Cahaya bulan juga terlihat lebih terang 30%.

Supermoon tidak terjadi setiap tahun. Supermoon paling besar dan cerah seperti tadi malam, baru dapat muncul lagi pada 2026. Jadi, tujuh tahun lagi. Supermoon sebelumnya terjadi 21 Januari 2018, namun tidak sebesar ini.

Sementara itu, di Surabaya, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) di Maritim Perak, Surabaya meminta warga di kawasan pesisir mewaspadai luapan air.

“Pasang air laut bisa mencapai ketinggian 130-140 centimeter dari permukaan laut untuk wilayah pesisir,” ujar Kepala Stasiun Meteorologi Maritim Perak Surabaya, Taufiq Hermawan.

Air pasang terjadi Selasa (19/2) pukul 22.00-24.00 WIB di wilayah pelabuhan untuk Surabaya. Untuk wilayah Pesisir Surabaya Timur air pasang 21.00-23.00 WIB. Di pesisir Surabaya Barat terjadi 22.00-23.00. di pesisir Sidoarjo, air pasang 21.00-24.00.

Sayangnya, Surabaya diselimuti mendung sejak sore. Bahkan, beberapa kawasan sempat turun hujan meski tidak lebat. Ini membuat langit menutupi bulan super. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*