JoSS, SEMARANG – Arus pengiriman barang ke luar negeri makin terbuka seiring dioperasikannya terminal kargo dan pos baru Bandara Jenderal Ahmad Yani, Semarang. Perlu sinergi lintas sektoral di Jawa Tengah guna menangkap peluang tumbuhnya ekspor tersebut.
Direktur Pemasaran dan Pelayanan PT Angkas Pura (AP) I Devy Suradji menyatakan pihaknya sudah mendapat pesanan dari pelaku usaha Jawa Tengah untuk menambah slot penerbangan internasional guna mendukung pengiriman kargo ekspor.
“Potensi kargo Jawa Tengah sangat bagus ke luar negeri. Saat opening ini saja kami sudah mendapat masukan, bisa tidak lebih banyak penerbangan yang ke luar negeri. Seperti pertanian, mereka butuh kirim melati langsung ke Singapura, harus fresh, tidak bisa mampir-mampir. Dari perikanan juga direct ke Singapura dan Malaysia,” beber dia saat meresmikan terminal kargo dan pos baru Bandara Jenderal Ahmad Yani, Semarang, Rabu (23/1).
Hanya saja, lanjut dia, penambahan slot kargo ekspor perlu memperhatikan okupansi penumpang. Ketika trafik kargo ke suatu negara meningkat maka trafik penumpang juga diupayakan naik. Karena itu perlu ada kolaborasi kerja dengan pelaku pariwisata untuk bisa mendatangkan wisatawan asing maupun sebaliknya.
Baca juga: Tak Sampai 2020, Pembangunan NYIA Selesai Akhir Tahun ini
“Harus seimbang antara kargo dan pax (penumpang). Karenanya perlu duduk bersama dengan aviasi, karena tour and travel juga harus cukup punya peluru untuk jualan pax ke sini. Nah ini perlu sinergi, tidak bisa kita hanya kejar kargonya saja,” terangnya.
Data AP I menyebutkan trafik pergerakan kargo Bandara Jenderal Ahmad Yani Semarang di 2017 mencapai 17.630 ton. Pada 2018 meningkat menjadi 23.556 ton atau tumbuh sebesar 34 %.
Pertumbuhan kargo ini jauh lebih tinggi dari pertumbuhan trafik penumpang. Dimana pada 2018 hanya tumbuh 17 % dibanding realisasi 2017, dari 4,4 juta penumpang menjadi 5,1 juta penumpang.
Mengimbangi pesatnya trafik kargo tersebut, AP I membangun terminal kargo dan pos baru berdampingan dengan terminal penumpang yang dirilis Presiden Jokowi pada Juni 2018. Apalagi kapasitas terminal kargo lama sudah overload.
“Kapasitas terminal kargo lama Bandara Jenderal Ahmad Yani Semarang yang hanya sebesar 20 ribu ton per tahun,” kata Devy.
Terminal kargo dan pos baru Ahmad Yani memiliki luasan 2.560 meter persegi. Lebih luas empat kali lipat dibanding terminal kargo dan pos lama yang hanya 639 meter persegi. Kapasitasnya pun bertambah, menjadi 60 ribu – 70 ribu ton per tahun.
Devy berharap ada peningkatan demand dari eksportir guna menambah volume ekspor maupun memperluas pasar internasional. Sebab hingga saat ini arus kargo Ahmad Yani masih didominasi tujuan domestik, yakni Jakarta. Tujuan internasional yang bisa direct baru ke Singapura dan Kuala Lumpur, Malaysia. (Joy/lna)

Leave a Reply