
JoSS, SEMARANG – Sedikitnya satu juta wisatawan asing batal datang ke Tanah Air hingga akhir tahun 2018. Beruntunnya bencana alam yang menghajar sejumlah destinasi wisata andalan mengurungkan niat pelancong mancanegara.
Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya mengatakan berkurangnya wisatawan mancanegara (wisman) sangat terasa di momentum libur Natal dan Tahun Baru.
“Jadi bencana sangat mempengaruhi. Ada tiga bencana besar dan impact-nya sekitar satu juta wisman yang tidak jadi datang ke Indonesia, ” kata Arief usai bertemu dengan pelaku wisata di Jawa Tengah dan Yogyakarta, di Semarang, Jumat (4/1).
Arief menjelaskan di libur Natal dan Tahun Baru, jumlah kunjungan wisman hanya naik lima persen dibanding hari biasa yakni mencapai 10 juta wisatawan saja. Padahal pada Lebaran 2018 jumlah wisman yang melancong dua kali lipatnya, sekitar 20 juta orang.
Anjloknya jumlah wisatawan asing tak lepas dari kejadian gempa bumi di Lombok pada 5 Agustus, gempa bumi disusul tsunami di perairan Palu 28 Sepember 2018 dan tsunami Selat Sunda pada 22 Desember 2018.
Dan tsunami Selat Sunda yang memporakporandakan perairan Banten dan Lampung di masa akhir tahun membuat geliat pariwisata di Indonesia makin terpukul.
“Gempa Lombok 5 Agustus, sehari setelahnya wisman turun drastis dan banyak yang membatalkan kepergiannya. Di Palu meskipun bukan destinasi utama (Indonesia) tapi orang luar tidak tahu, mereka tahunya di Indonesia ada gempa dan tsunami, ” bebernya.
Baca juga: 33 Pelaku Industri Pariwisata Promosikan Bali Hingga Ke China
Arief menyebut penurunan jumlah kunjungan wisman didominasi oleh pelancong asal China. Saat ini, jumlah turis China berada di peringkat kelima kunjungan wisman di bawah Malaysia, Singapura, Timor Lesta dan Australia.
Padahal sebelumnya pelancong China selalu menempati urutan pertama turis yang datang ke Indonesia.
“Travel advice yang dikeluarkan pemerintah China sangat efektif. Jumlah wisman dari China langsung nol. Karena travel advice dianggap sebagai larangan dan mereka sagat patuh kepada pemerintah,” jelasnya.
Kondisi beda di travel advice yang dikeluarkan oleh pemerintah Australia ketika bencana alam melanda Indonesia. Turis asal negara Kanguru itu tetap membanjiri Indonesia meski ada imbas penurunan 10-12 persen saja.
“Orang Australia merasa Bali adalah second home seperti pulang kampung, sehingga meski turun namun tidak terlalu besar,” katanya.
Ditambahkan, Menpar optimis geliat wisata Indonesia bisa balik normal di waktu yang tidak lama. Pihaknya mentargetkan pemulihan destinasi wisata terimbas bencana pulih dalam beberapa bulan kedepan. Seperti wisata Lombok bisa pulih dalam tempo enam bulan setelah proses rehabilitasi bencana di mulai.
“Lombok kami harapkan enam bulan, berarti pada Maret 2019 mendatang bisa pulih,” pungkas Arief. (Joy/lna)

Leave a Reply