JoSS, LONDON – Rapat terakhir bagi parlemen Inggris sebelum memasuki masa rehat Natal dan Tahun Baru terkait pembahasan Britania Raya keluar dari Uni Eropa (Brexit) lagi-lagi menemui jalan buntu.
Untuk mengantisipasi segala kemungkinan terkait kebuntuan negosiasi Brexit, Inggris menyiagakan 3.500 personel.
Keputusan ini diambil setelah Perdana Menteri Theresa May gagal meloloskan draf keputusan Brexit di hadapan oposisi pada rapat kabinet, Selasa (18/12), hanya berselang 14 pekan menjelang tenggat waktu.
Meski demikian, Menteri urusan Brexit, Steve Barclay, mengatakan bahwa jajaran kabinet masih berharap bisa mendapatkan dukungan Dewan Perwakilan meski pemungutan suaranya harus diundur hingga Januari 2019.
Ia pun menganggap langkah untuk tak memutuskan apa-apa hingga akhir tahun ini sangat bagus agar pemerintah dapat mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik menjelang pemungutan suara parlemen.
Dengan demikian, pemerintah Inggris diharapkan dapat menyodorkan satu kesepakatan final kepada Uni Eropa pada waktu jatuh tempo pada 29 Maret 2019.
“Kami sepakat untuk tak menyepakati sesuatu terlebih dulu di dalam pemerintah. Namun, prioritas utama kami tetap untuk mencapai satu kesepakatan,” ucapnya sebagaimana dikutip AFP.
Kini, para anggota kabinet akan mencari pendapat dari pebisnis mengenai strategi yang tepat agar perekonomian Inggris tak terpuruk setelah Brexit.
Baca juga: Truk Dilarang Melintas di Tol Cikampek Jelang Libur Nataru
Hingga saat ini, kabinet May sendiri masih terbelah antara pendukung draft gagasannya dan yang menentangnya.
Usulan May sendiri dikenal dengan nama soft Brexit, di mana Inggris keluar dari Uni Eropa tapi masih menjalin hubungan perekonomian seerat mungkin.
Sementara itu, para penentang May menuntut Inggris keluar dari Uni Eropa dengan cara keras atau tanpa hubungan sama sekali nantinya. Silang pendapat ini membuat tingkat kepercayaan publik atas May menurun. Faksi partainya sendiri di parlemen bahkan sempat mengajukan mosi tidak percaya, meski akhirnya gagal.
Dikutip dari CNNIndonesia, Meski lolos dari mosi tidak percaya, May masih harus menghadapi ketidakpercayaan dari dalam tubuh partainya sendiri yang membuatnya berjanji tak akan mengikuti pemilu 2019. Ia berjanji hanya ingin menuntaskan tugasnya untuk mengeluarkan Inggris dari Uni Eropa.
Mosi tidak percaya ini sendiri diajukan menyusul negosiasi tentang pengunduran diri Inggris dari Uni Eropa, atau dikenal dengan istilah British Exit (Brexit), yang semakin kacau setelah May memutuskan menunda pemungutan suara Brexit di parlemen kemarin.
May menunda pemungutan suara tersebut salah satunya lantaran proposal perjanjian dengan Uni Eropa terkait Brexit gagasannya kalah suara.
Pengajuan mosi itu semakin memperdalam krisis kepemimpinan yang dihadapi May sejak menjabat sebagai PM pada Juli 2016 lalu.
Nahasnya, kala itu May terpilih menggantikan David Cameron yang mengundurkan diri setelah hasil referendum memutuskan Inggris keluar dari Uni Eropa. (lna)

Leave a Reply