Gurita Bisnis Match Fixing Harus Diungkap Tuntas

gurita bisnis
Ketua Askot PSSI Semarang Supriyadi. Foto: joy/joss.co.id

JoSS, SEMARANG – Insan sepak bola Semarang meminta gurita bisnis mafia bola di tubuh PSSI diungkap tuntas dan gamblang agar sepak bola Tanah Air lebih maju dan lebih baik. Seperti diketahui bisnis pengaturan skore atau hasil akhir pertandingan yang bersifat konvensional (Matc Fixing) dalam persepakbolaan di Indonesia tengah menjadi sorotan masyarakat.

Sejumlah jajaran pengurus strategis di tubuh Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) telah ditangkap dan dijadikan tersangka.  Setelah menangkap anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI Johar Lin Eng, Kamis(27/12), Satuan Tugas (Satgas) Anti Mafia Bola kembali menangkap anggota Komisi Disiplin (Komdis) Dwi Irianto di Jogja, Jumat (28/12),  lantaran diduga terlibat dalam kejahatan match fixing. Kemudian penangkapan  Dwi   Insan sepak bola Semarang pun meminta gurita mafia bola di tubuh PSSI diungkap tuntas dan gamblang agar sepak bola Tanah Air lebih maju dan lebih baik.

Match fixing  adalah suatu jenis pengaturan hasil akhir yang bersifat konvensional (suatu tim atau atlit individu dibayar untuk “sengaja” kalah)

Ketua Asosiasi Kota (Askot) PSSI Semarang, Supriyadi berharap kasus Johar Lin Eng jadi momentum untuk melakukan perbaikan pengelolaan sepak bola Tanah Air di bawah komando federasi. “Dengan mulai terkuaknya kasus ini bisa menjadi pelajaran bagi dunia persepakbolaan Indonesia maupun di Jawa Tengah,” tegasnya.

Menurut Supriyadi, selama ini pelaku sepak bola hanya bisa mencium bau pengaturan skor namun sulit melacak pelakunya. “Bisa dirasakan pula ketika kompetisi digulirkan tapi kita sulit untuk membuktikannya,” beber dia.

Baca juga: Johar Lin Eng Dicecar 28 Pertanyaan Seputar Materi Mata Najwa

Karena itu ia sangat mendukung langkah Satgas Antimafia Bola Polri. Ulah pelaku match fixing sangat mencederai semangat sportivitas olah raga. Karena mereka juga bisa menentukan hasil akhir sebuah kompetisi sebelum digulirkan.

“Kalau ini dibiarkan maka daerah yang benar-benar ingin memajukan sepak bola fair play malah justru akan dihancurkan oleh oknum-oknum yang bermain dibalik kompetisi,” terang pria yang juga Ketua DPRD Kota Semarang ini.

Supriyadi menambahkan sepak bola tidak hanya berbicara pertandingan dan bergulirnya kompetisi. Ada hal lain yang tak kalah penting yang perlu menjadi perhatian bersama. Yakni faktor non teknis menyangkut persoalan integritas dan kesejahteraan pemain maupun pelatih.

“Juga masalah teknis pelatihan, pembibitan hingga seleksi pemain. Endingnya adalah bagaimana kompetisi sepak bola bisa berjalan sehat dengan menjunjung tinggi sportivitas,” imbuhnya.

Hal senada disampaikan kalangan suporter Semarang. Ketua Panser Biru Wareng mengapresiasi langkah Satgas Antimafia Bola yang meringkus pelaku match fixing. “Harus ada pengungkapan kasus dengan skala yang lebih besar agar sepak bola kita maju. Di Liga 1 juga harus diungkap, jangan hanya di Liga 3 atau Liga 2 saja,” pintanya.

Wareng mengaku tidak kaget dengan penangkapan Johar Lin Eng mengingat kasak kusuk sepak terjangnya di dunia sepak bola Jawa Tengah bukan hal baru. “Sudah banyak yang tahu kalau di Jateng,” katanya. (Joy/lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*