JoSS, JAKARTA – Proses divestasi 51% saham PT Freeport Indonesia (PTFI) oleh PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) usai sudah. Struktur manajemen barupun telah ditentukan. Freeport melakukan investasi sebesar US$ 20 miliar hingga 2041 untuk mengembangkan tambang bawah tanah di Papua.
Budi Gunadi Sadikin, Direktur Utama PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero), menjelaskan dengan proses disvestasi ini Inalum akan menguasai 51,2% saham PTFI dan 48,8% akan dimiliki oleh Freeport-McMoRan Inc.
“Siapa pengurusnya? Direksinya ada empat orang Indonesia dan dua non-Indonesia. Direktur Utamanya Pak Tony Wenas,” ujarnya dalam konferensi pers di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Jakarta, Jumat (21/12).
Selanjutnya, dia menyebutkan tiga jajaran direksi lainnya yang berasal dari Indonesia diisi oleh Orias Petrus Moedak sebagai wakil direktur utama. Saat ini, Orias tercatat sebagai Direktur Keuangan Inalum. Lalu Jenpino Ngabdi sebagai direktur, Achmad Ardianto sebagai direktur.
Kemudian dua posisi direktur lainnya diisi ahli operator Freeport-McMoRan Inc, yakni Robert Charles Schroeder dan Mark Jerome Johnson.
Sementara itu, jajaran komisaris juga diisi oleh empat orang Indonesia dan dua orang non-Indonesia. Komisaris Utama diisi Chief Executive Officer of Freeport-McMoRan Inc. Richard Adkerson dan posisi Wakil Komisaris Utama diisi mantan Kepala SKK Migas Amien Sunaryadi.
Baca juga: Pemerintah Jepara Gelontorkan Rp31 Miliar Untuk Percantik Pantai
Sementara itu, PTFI akan melakukan investasi sebesar US$ 20 miliar hingga 2041 untuk mengembangkan tambang bawah tanah di Papua.
CEO Freeport-McMoran Inc Richard Adkerson mengatakan PTFI di Grasberg akan bertransisi dari tambang terbuka yang beroperasi sejak 1990 menjadi tambang terbesar bawah tanah. Ini membutuhkan investasi besar US$ 20 miliar sampai 2041.
Komitmen investasi itu, kata Adkerson lantaran PTFI sudah menerima IUPK dari yang sebelumnya masih dalam kontrak karya (KK). Perubahan kontrak itu, kata Adkerson, memberikan kepastian hukum dan menjadi pegangan PTFI beroperasi di Indonesia sampai 2041.
“Saya mengucapkan terima kasih atas solusi ini dan juga kepada Presiden. Akhirnya kita bisa melanjutkan operasi hingga 2041 dan stabilitas fiskal. Kita juga akan bangun smelter sesuai arahan presiden dan akan dimulai secepatnya selesai dalam lima tahun,” katanya seperti dikutip dari Bisnis.com.
Tidak hanya itu, pihak Freeport Indonesia juga akan mengawal proses transisi pengoperasian, produksi, hingga meningkatkan kesejahteraan masyarakat Papua.
“Ke depan adalah operasi tambang kami, menciptakan lapangan kerja, keuntungan untuk warga Papua,” ungkapnya. (lna)

Leave a Reply