
JoSS, KOREA SELATAN – Setelah saling berkirim jeruk dan jamur, membuka jalur rel perbatasan Korea Selatan dan Korea Utara, kini kedua negara yang tengah mengakhiri perseteruannya selama puluhan tahun itu mewujudkan Gulat Korea.
Kedua Korea itu terus menandai langkah-langkah baru sebagai upaya rekonsiliasi mereka. Seperti diketahui, UNESCO baru saja menerima gulat Korea, sebagai kebudayaan gabungan kedua negara, untuk diakui sebagai bagian dari wariasan budaya tak benda.
Meskipun pada mulanya, kedua negara tersebut mengajukan permohonan terpisah atas budaya tradisional gulat yang dimilikinya untuk mendapatkan pengakuan UNESCO. Namun pasca rekonsiliasi yang terjadi pada April lalu, kedua negara sepakat untuk mengajukannya bersama-sama.
Direktur Jenderal UNESCO, Audrey Azoulay, mengatakan bahwa penerimaan pengajuan kebudayaan kedua negara yang tergabung ini belum pernah terjadi sebelumnya. Dia menilai pengajuan bersama ini merupakan langkah besar dalam sejarah Korea Utara dan Korea Selatan dalam mewujudkan rekonsiliasi mereka.
“Pengajuan bersama ini merupakan langkah bersejarah di jalan menuju rekonsiliasi antar-Korea,” ujarnya mengutip dari AFP, Selasa (27/11).
Azoulay menuturkan Gulat Korea ini disetujui oleh komite UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda pada sebuah pertemuan di Mauritius, Senin (26/11).
Baca juga: Lilik Jalan Kaki dari Blora ke Jakarta Demi Dukung Jokowi
Gulat sendiri dikenal dengan istilah ‘Ssirum’ untuk Korea Utara dan ‘Sssireum’ untuk Korea Selatan. Di kedua negara, gulat telah dipratikkan di berbagai gelaran festival rakyat selama berabad-abad.
Di Korea Selatan, pegulat tampil hanya dengan memakai celana pendek berukuran ketat dan biasa dilakukan di atas pasir. Sementara di Korea Utara, mereka mengenakan pakaian tanpa lengan dan dilakukan di atas matras.
Hanya ada satu kompetisi gulat yang berlangsung antar-Korea. Kompetisi itu pernah digelar di Jeju pada 2003 lalu.
Sebelumnya, baik Korea Utara dan Korea Selatan kerap mengajukan permohonan terpisah untuk memasukkan gulat sebagai salah satu warisan budaya dunia.
Namun, pada pertemuan dengan Presiden Korea Selatan, Moon Jae-in di Paris bulan lalu, Azoulay menyarankan agar pengajuan tersebut digabungkan. Gagasan itu kemudian disetujui antara kedua negara.
Penggabungan itu menjadi asa dalam hubungan diplomatik antara kedua negara yang diketahui melakukan tiga pertemuan besar di tahun ini. (lna)

Leave a Reply