Defisit Neraca Perdagangan Jateng Makin Lebar Produk Tekstil Masih Mendominasi

defisit
Ilustrasi | Foto: google

JoSS, SEMARANG – Defisit neraca perdagangan Jawa Tengah yang pada Oktober 2018 mencapai US$921 juta diperkirakan terus berlanjut hingga akhir tahun ini. Saat ini defisit neraca perdagangan Jateng telah menembus angka US$6,91 miliar.

Kepala Bidang Statistik Distribusi BPS Jateng Arjuliwondo mengatakan secara kumulatif, ekspor Jateng sepanjang periode Januari-Oktober 2018 telah mencapai US$5,5 miliar.

Sementara itu secara kumulatif, impor Jateng sepanjang Januari-Oktober 2018 telah mencapai US$12,42 miliar atau melonjak 47,56% dibandingkan dengan impor pada periode yang sama tahun lalu senilai US$8,41 miliar.

Dengan hasil tersebut, sepanjang periode Januari-Oktober 2018 defisit neraca perdagangan Jateng telah mencapai US$6,91 miliar. Nilai tersebut bahkan lebih tinggi dari defisit neraca perdagangan nasional yang tercatat senilai US$5,51 miliar.

“Defisit neraca perdagangan Jawa Tengah diperkirakan terus berlanjut hingga akhir tahun ini. Saat ini defisit neraca perdagangan Jateng telah menembus angka US$6,91 miliar. Hal ini karena pertumbuhan impor lebih tinggi dibandingkan dengan ekspor, baik secara nominal maupun kuanntita,” katanya, Kamis (15/11) seperti dikutip dari Kabar24.

Baca juga: Berburu Jajanan Tempo Dulu Di Pasar Kebon Watu Gede

Berdasarkan data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor Jateng pada Oktober 2018 mencapai US$579 juta atau naik 8,17% dibandingkan dengan ekspor pada September 2018 senilai US$536,12 juta.

Demikian juga jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu pun, ekspor Jateng tercatat meningkat 9,51%. Secara kumulatif, ekspor Jateng sepanjang periode Januari-Oktober 2018 telah mencapai US$5,5 miliar atau naik 11,29% dari ekspor pada periode yang sama tahun lalu senilai US$4,95 miliar.

Adapun, nilai impor Jateng pada Oktober 2018 mencapai US$1,5 miliar atau naik 26,76% dibandingkan impor pada September 2018 yang senilai US$1,18 miliar. Secara year on year, kenaikan impor Oktober 2018 bahkan mencapai 41,95%.

“Secara kumulatif, impor Jateng sepanjang Januari-Oktober 2018 telah mencapai US$12,42 miliar atau melonjak 47,56% dibandingkan dengan impor pada periode yang sama tahun lalu senilai US$8,41 miliar,” tutunya.

Lebih lanjut Arjuliwondo mengatakan komoditas mineral, mesin, serta barang-barang tekstil mendominasi impor Jateng. Dia menuturkan, berdasarkan statistik, kinerja ekspor Jateng masih sulit mendekati impor.

“Dari statistik terlihat terus melebar. Utamanya dari migas. Kalau nonmigas potensi untuk mengikis defisit masih terlihat,” katanya. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*