Benarkah Tidur Dekat Kipas Angin Sebabkan Paru-Paru Basah?

paru-paru basah
Ilustrasi | Foto: google

JoSS, JAKARTA – Sebagian besar masyarakat kita meyakini, bahwa terlalu sering menggunakan kipas angin saat tidur bisa menyebabkan paru-paru basah.

Ada lagi yang mempercayai bahwa tidur dilantai bisa menyebabkan penyakit berbahaya tersebut. Namun, secara medis, benarkah paru-paru basah disebabkan karena terlalu sering tidur dekat kipas angin atau tidur di lantai?

Paru-paru basah sendiri dikenal awam untuk menggembarkan kondisi paru yang terendam cairan.

Hal itu seperti yang dialami comedian Pretty Asmara yang meninggal setelah mengalami penumpukan cairan di jaringan sekitar paru-paru.

Salah satu yang dianggap menjadi faktor risiko adalah selalu dekat kipas dan tidur di lantai.

Dokter ahli paru dari RS Persahabatan, Jakarta dr Agus Dwi Susanto, SpP mengatakan paru-paru basah sebetulnya tak dikenal dalam dunia medis. Istilah ini untuk menyatakan pembengkakan dalam jaringan paru, karena mengandung terlalu banyak cairan atau edema paru.

“Hingga saat ini belum ada bukti medis yang menyatakan, penggunaan kipas angin atau tidur di lantai bisa menyebabkan paru-paru basah. Kondisi ini bisa dihindari dengan mengetahui faktor risikonya,” ujar dr Agus saat dihubungi detikHealth, Senin (5/11).

Baca juga: Kisah Tragis Ini Jadi Alasan David Menciptakan Black Box

Paru-paru basah sebetulnya juga kerap ditujukan pada gangguan yang disebut efusi pleura. Kondisi ini ditandai kelebihan cairan pada rongga antara lapisan paru dan dinding dada. Sama dengan edema, efusi pleura menyebabkan jaringan paru membengkak.

Beberapa kondisi yang bisa menyebabkan edema adalah pneumonia, gagal jantung, dan gagal ginjal. Edema paru bisa dihindari dengan penerapan pola hidup sehat, kontrol rutin, dan minum obat bagi yang terdeteksi.

Dokter spesialis paru dari RS Persahabatan, Jakarta Agus Dwi Susanto mengatakan, kondisi yang dialami Pretty mungkin adalah efusi pleura. Kondisi ini terjadi akibat penumpukan cairan di rongga selaput paru (pleura).

“Saya mengutip kondisi yang menyatakan adanya penimbunan cairan antara paru-paru dan pembungkusnya. Dalam kondisi normal, cairan ini ada namun tidak terlalu banyak,” kata Agus pada detikHealth pada Senin (5/11).

Cairan ini terletak di rongga antara pembungkus paru (pleura viseral) dan pembungkus dinding dada bagian dalam (pleura parietal). Total volume cairan adalah 0,26 mililiter per kilogram berat badan. Artinya, dengan berat badan 50 kilogram maka volume cairan adalah 13 mililiter.

Cairan tersebut memungkinkan selaput paru bergerak sendiri saat pernapasan berlangsung. Penumpukan cairan terjadi karena komplikasi penyakit sebelumnya pada pasien. (Wiek/lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*