
JoSS, SEMARANG –Sebuah mobil mencurigakan diketahui menerobos lampu lalu lintas menuju ke Bandara Internasional Jenderal Ahmad Yani Semarang dengan kecepatan tinggi. Polisi lalu lintas berusaha melakukan pengejaran dan memberikan informasi kepada petugas bandara.
Tiba di bandara, penumpang mobil merangsek dengan sejumlah peralatan tempur. Alih-alih melakukan pencegatan, petugas bandara malah jadi sasaran penyanderaan. Dibawah todongan senjata laras panjang mereka disandera bersama sejumlah pengunjung.
Suasana tegang pun tak terelakkan. Salah satu pelaku berpenutup kepala melepas tembakan sebagai pengingat agar mereka yang ada di ruangan mengikuti perintah. Takut, pengunjung dan petugas bandara langsung tiarap menyesuaikan instruksi pelaku terduga teroris.
Pimpinan bandara yang mengetahui penyerbuan memerintahkan petugas yang ada untuk menutup bandara dan memberlakukan siaga satu. Ia juga melapor ke pimpinannya dan berkoordinasi dengan Badan Nasional Pemberantasan Terorisme (BNPT).
Kejadian tersebut direspon dengan pengaktifan Crisis Center BNPT.
Upaya negosiasi dilakukan namun tidak membuahkan hasil. Penyerbuan pun disiapkan. Tim mobilisasi udara dari Brigade Infantri menggunakan helikopter bell 142 melaksanakan penestrasi ke lokasi.
Baku tembak terjadi. Satu diantara terduga teroris tertembak, yang lain menyerahkan diri. Belum selesai, ternyata ancaman lain datang dari sebuah paket yang ditemukan petugas yang dicurigai berisi bom. Tim penjinak bom akhirnya berhasil mengevakuasi dengan bom blaket.
Baca juga: Ribuan Anak Difabel di Jogja Tidak Bersekolah
Cukup seru memang mengikuti rangkaian kegiatan pelatihan kontra terorisme yang digelar BNPT bersama TNI-Polri. Dan drama penyerbuan teroris diatas bukan kejadian sesungguhnya. Itu adalah smulasi pelatihan mitigasi terorisme intergratif.
“Maksud kegiatan tersebut adalah untuk membuat suatu kesiapsiagaan. Kami berharap apabila terjadi suatu tindakan kejadian terorisme di tanah air, khususnya di bandara, kami siap melakukan antisipasi,” tutur Kepala BNPT Komjen Pol Suhadi Alius.
Pada kegiatan pelatihan itu diatur teknik dari masing-masing instasi. Suhadi berharap jika teknik itu dilatih berulangkali maka akan terdapat pemahaman yang utuh diantara instansi terkait.
“Sehingga jika terjadi kejadian tidak saling menunggu tapi dapat mengambil perannya masing-masing,” terang dia.
Dipilihnya bandara sebagai lokasi latihan lantaran bandara salah satu obyek vital yang rentan jadi sasaran pelaku terorisme. Kejadian di Belgia juga menjadi momentum evaluasi di standar penanganan serbuan teroris.
“Tidak hanya di bandara, pelabuhan, dan terminal juga menjadi sasaran. Bandara internasional yang besar dan sibuk dilakukan penanganan lebih besar namun tetap ada SOP yang baku. Dan Bandara Internasional Jenderal Ahmad Yani ini terdapat penerbangan langsung ke luar negeri yang juga bisa menjadi sasaran teroris,” pungkasnya. (joy/lna)

Leave a Reply