JoSS, JAKARTA – Ikan, sebagai sumber makanan yang baik kini berpotensi tercemar mikroplastik, dengan diameter lima milimeter atau kurang.
Polusi plastik diduga telah mencemari makanan laut di dunia. Padahal, makanan laut, khususnya ikan, adalah salah satu sumber protein sehat yang biasa kita konsumsi. Beberapa jenis ikan, seperti tuna dan salmon, adalah sumber omega 3 terbaik yang sangat penting bagi tubuh. Kandungan EPA dan DHA-nya amat baik untuk jantung dan otak.
Menurut seorang peneliti dari Roskilde University, potongan-potongan kecil yang terkandung dalam ikan itu terutama berasal dari barang-barang plastik yang telah dipecah oleh angin, gelombang, dan sinar matahari.
Peneliti yang fokus mempelajari polusi plastik itu mengatakan, beberapa mikroplastik juga berasal dari pelet plastik yang disebut “nurdles”. Mikroplastik itu juga ditemukan dalam microbeard atau butiran halus dari partikel kecil plastik yang ditemukan dalam produk kesehatan dan kecantikan.
Para peneliti juga menemukan partikel serupa di air tawar. Temuan tersebut mencerminkan, ikan yang kita konsumsi mungkin pula telah terkontaminasi bahan kimia, seperti PCB dan logam berat yang beracun dari mikroplastik itu. Laman Hello Sehat memberitakan, plastik dalam makanan tak bisa diurai dalam tubuh, hingga bisa mengganggu fungsi organ dalam tubuh.
Baca juga: Berburu Jajanan Tempo Dulu Di Pasar Kebon Watu Gede
Zat kimia yang terakumulasi di dalam tubuh juga merupakan faktor yang berkontribusi terhadap tumbuhnya kanker. Demi meminimalkan risiko ini, kita bisa memilih mengonsumsi ikan yang berukuran lebih kecil.
Plastik dan racun dapat memasuki rantai makanan. “Jadi mengonsumsi hewan pemakan tanaman atau ganggang adalah pilihan lebih aman daripada mengonsumsi hewan pemangsa biota laut,” ucap dia seperti dirilis Kompas.com.
Meski kerang juga terancam polusi plastik, namun mahkluk laut ini lebih efisien dan mampu membersihkan dirinya sendiri dari polusi plastik.
Kandungan mikroplastik juga ditemukan di dalam garam laut sejak bertahun-tahun yang lalu. Sifat plastik yang tak lebur selama bertahun-tahun menyebabkan partikel itu dapat tertelan dan masuk serta terakumulasi di dalam tubuh dan jaringan organisme.
Dari 39 merek garam yang diteliti, ada 36 yang ternyata mengandung mikroplastik.
Ada tiga merek yang tak mengandung mikroplastik berasal dari Taiwan, China, dan Perancis.
Produk dari Taiwan adalah garam laut yang dimurnikan, sementara dari China adalah produk garam batu halus. Lalu dari Perancis garam laut tak dimurnikan yang dihasilkan dari penguapan matahari.
Nah, yang lebih mengejutkan adalah garam meja yang dijual di Indonesia ternyata memiliki kandungan mikroplastik tertinggi dibandingkan sampel lainnya. (Wiek/lna)

Leave a Reply