JoSS, SEMARANG – Agustina Wilujeng Pramestuti mendapat amanat untuk memimpin Dewan Pengurus Pusat (DPP) Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, periode 2018-2023, dengan menduduki posisi sebagai Ketua Umum. Kepemimpinan Agustin di DPP Ika FIB Undip dikukuhkan oleh Wakil Ketua Umum Ikatan Alumni Undip Semarang, Ahmad Muqowam, di Kota Semarang, Jawa Tengah, belum lama ini.
Seusai dilantik, Agustina Wilujeng yang juga anggota Komisi IV DPR RI dari FRaksi PDI Perjuangan ini berjanji segera menyiapkan program kerja yang berkaitan dengan upaya melestarikan budaya yang relevan dengan dinamika masyarakat. “Budaya bukan sekadar seni dan karya sastra. Budaya merupakan bagian dari produk perilaku kita,” kata anggota DPR yang mewakili Kabupaten Sragen, Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Wonogiri ini, kepada JoSS, Jumat (16/11).
Dia mengungkapkan, alumnus FIB Undip baik yang menjadi pengurus maupun anggota memiliki profesi yang sangat beragam. Dengan berbagai latar belakang pekerjaan, kata dia, tidak menjadi halangan untuk menyiapkan program kerja organisasi ini ke depan. Itu karena budaya mengesampingkan kepentingan kelompok, golongan dan latar belakang.
Secara tegas pimpinan Ika FIB Undip ini mencanangkan untuk mengajak generasi milenial untuk ikut membangun budaya organisasi yang baik. Karena pengalaman dalam organisasi sangat mendukung kesuksesan alumni perguruan tinggi saat berkiprah dalam kehidupan masyarakat. “Saya pun masuk ke dunia politik dan menjadi angggota DPR RI karena senang berorganisasi,” ungkapnya.
Pada kepengurusan Ika FIB Undip Periode 2018-2023 ini, Agustina Wilujeng didampingi Teguh HP sebagai Sekjen. Wakil Ketua Umum dijabat oleh Sukirman yang saat ini menjabat Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah. Alumni yang dilantik menjadi pengurus Ika FIB Undip ini jumlahnya mencapai 100 orang.
Wakil Ketua Umum DPP Ika Undip, Muqowam, saat melantik meminta alumnus FIB Undip bisa memberi kontribusi dan manfaat bagi masyarakat dan negara. “Tantangan di masyarakat akan sangat dinamis, dalam konteks keilmuan menuju negara beradab,” katanya.
Baca juga: Ruang Komersial Bandara Kulonprogo Nantinya Akan Dipenuhi UMKM Asal Jogja
Muqowam yang juga anggota DPD RI dari Dapil Jateng berpendapat, saat ini masih terdapat ruang kosong dalam kehidupan bermasyarakat di Indonesia, yakni pendekatan budaya. “Budaya menjadi sesuatu yang tidak boleh kita tinggalkan,” katanya. Ia menambahkan, budaya merupakan satu hal yang membedakan Indonesia dengan negara yang lain. Karena itu, dia berharap Ika FIB bisa memainkan peran ini dengan baik karena potensinya ada.
Agustina menyambut baik perintah dari Ika Undip. “Amanat lain dari Pak Muqowam, atas nama dari DPP Ika Undip, juga diharapkan segera membentuk DPD dan DPC Ika FIB yang dia contohkan seperti partai politik. Tapi nanti entah apa namanya, rayon atau cabang, nanti kita putuskan di dalam raker,” ucap Agustina.
Sebelum pelantikan, pengurus Ika FIB Undip juga melakukan audiensi dengan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. Gubernur berpesan agar Forum alumni FIB ini tidak sekedar sebagai acara temu kangen atau memanjakan perasaan romantisme, namun harus menjadi kekuatan-kekuatan yang bisa berkontribusi dalam membangun kembali pondasi budaya adiluhung yang terancam luntur.
Ganjar juga meminta agar para alumnus itu ikut membantu memecahkan masalah di Jateng seperti politik, sosial, ideologi, maupun budaya. ”Kegiatan positif harus diberikan kepada generasi muda, misalnya alumnus yang seniman itu bisa memberikan pelatihan seni. Jurnalis juga bisa memberikan pelajaran membuat berita atau menulis yang bagus, ini penting supaya generasi muda tidak mudah termakan (berita-Red) hoax atau terjerumus ke penyalahgunaan narkoba,” kata Ganjar saat menemui Ketua Umum DPP IKA FIB Undip Agustina Wilujeng Pramestuti yang bersilaturahmi di rumah dinas gubernur di Puri Gedeh.
Terpisah, Dekan FIB Undip, Redyanto Noor, juga berharao bahwa pelantikan anggota DPP Ika FIB ini menjadi tahapan awal untuk berkontribusi. “Saya mengharapkan, menunggu kiprah dari Ika FIB ini, paling tidak ikut membesarkan nama Fakultas Ilmu Budaya, tidak saja di lingkungan undip, tetapi jauh lebih penting di luar lingkungan Undip. Baik dari skala nasional, syukur-syukur skala internasional,” ujar Redyanto Noor. (wid)

Leave a Reply