
JoSS, JAKARTA – Indonesia mendorong Arab Saudi untuk segera menyelesaikan pembahasan kerja sama Pertamina dan Saudi Aramco dalam proyek penambahan kapasitas Kilang Cilacap yang mengalami stagnasi sejak 2016.
Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi mengatakan Saudi Aramco sebagai perusahaan mitra yang digandeng Pertamina hingga kini dikabarkan masih menimbang untuk melanjutkan proyek tersebut.
Menurut dia salah satu kesepakatan ekonomi yang tengah diupayakan oleh pemerintah Indonesia dan Arab Saudi antara lain terkait kerja sama Saudi Aramco dan PT Pertamina.
“Salah satu ‘pending issues’ yang kami bahas adalah terkait kerja sama Aramco dan PT Pertamina untuk Refinery Development Master Plan (RDMP) atau Program Kilang Cilacap,” ujar Menlu Retno dalam konferensi pers di Gedung Pancasila Kemlu RI, Jakarta, Selasa (23/10).
Retno menuturkan kerja sama pembangunan kilang minyak di Cilacap, Jawa Tengah, telah dimulai sejak Mei 2016. Kesepakatan itu dihasilkan dari pertemuan Presiden RI Joko Widodo dengan Pangeran Arab Saudi Alwaleed bin Talal bin Abdulaziz Alsaud di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, pada Minggu, 22 Mei 2016.
Baca juga: Solo Wilayah Potensial Jual-Beli Senpi
Dia menambahkan pada Mei 2017, Saudi Aramco bersedia untuk berinvestasi dalam proyek RDMP di Cilacap hingga mencapai US$6 miliar atau setara dengan Rp87 triliun. Namun, hingga kini, pemerintah Indonesia tidak kunjung mendapatkan kepastian akan dana investasi tersebut.
Dia menambahkan masalah pendanaan disebut sebagai alasan pihak Aramco tak kunjung memberi kepastian. Mereka sempat diberitakan meminta penurunan keikutsertaan saham dari 45% menjadi 35%.
Menurut Menlu Retno, penyelesaian kesepakatan ini penting untuk diselesaikan demi menyokong kerja sama lainnya antar dua negara yang sama-sama tergabung dalam Organisasi Kerja sama Islam (OKI).
“Kerja sama ekonomi yang kuat diantara dunia Islam termasuk di dalam kerangka OKI tentunya penting untuk ditingkatkan. Pada pertemuan tadi, ternyata, Arab Saudi memiliki pandangan yang sama mengenai pentingnya peningkatan kerja sama tersebut,” ungkapnya.
Pemerintah, lanjutnya menargetkan Kilang Cilacap dengan kapasitas baru tersebut beroperasi pada 2023 setelah sebelumnya sempat menargetkan operasi dimulai awal 2022.
“Kapasitas produksi kilang tersebut diperkirakan akan meningkat dari 270.000 barel per hari menjadi 370.000 barel per hari,” katanya seperti dikutip dari Antara. (lna)

Leave a Reply