JoSS, SOLO – Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara mencanangkan gerakan media bermartabat guna mewujudkan pemilu yang berkualitas, dengan menjaga kesantunan dan kepantasan dalam bermedia.
Gerakan ‘Media Bermartabat untuk Pemilu Berkualitas’ dilaksanakan dengan melakukan safari ke pemilik media, redaksi, dan asosiasi wartawan, serta melibatkan KPU, Bawaslu, pemerintah daerah, Kepolisian dan akademisi. Gerakan ini akan dilakukan di beberapa kota dan dimulai di Kota Solo.
“Menjelang pesta politik 2019 sangat penting untuk menjaga kesantunan dan kepantasan dalam bermedia. Media dalam hal ini adalah media massa maupun media sosial.”papar Rudiantara di sela-sela pencanangan gerakan ‘Media Bermartabat untuk Pemilu Berkualitas’ di Monumen Pers Nasional (MPN), Surakarta, Senin (6/8).
Pencanangan dilakukan bersama pemimpin redaksi diantaranya pemred JoSS.co.id Agus Awo Widyanto dan wartawan di wilayah Jogja, Solo, dan Semarang, pemerintah daerah, asosiasi media, Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), Komisi Pemilihan Umum (KPU), akademisi, mahasiswa, pemuda, dan masyarakat umum.
Dalam kesempatan itu juga hadir dan melakukan orasi Ketua Dewan Pers Yoseph Adi Prasetyo, Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik Kemenkominfo Rosarita Niken Widiastuti, Bagir Manan, Atmakusumah, Ninok Leksono, Bambang Harymurti, dan Agus Sudibyo. Selain itu ketua Umum PWI Pusat Margiono, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Acara dipandu moderator Garin Nugroho.
Rudi mengatakan media bermartabat dalam Pemilu adalah media yang menyuarakan kebenaran, netral, proporsional, dan berpihak kepada masyarakat dan bangsa dengan mengedepankan etika, kepantasan dan kepentingan bersama.
Menurut dia fungsi fundamental media massa bukan sebagai follower media sosial dalam menyajikan wacana konflik dan perbedaan, tetapi dengan menyajikan wacana yang rasional dan mencerahkan.
Baca juga : Satgas Kesehatan TNI Diterbangkan Ke Lombok
“Menyajikan informasi, berita dan diskusi yang membuka cakrawala pemikiran dan yang meneduhkan suasana hati setiap orang.”paparnya.
Menurut dia, Indonesia sedang membutuhkan pers yang mampu menjadi perekat keutuhan bangsa. Bukan pers yang hanya mementingkan diri sendiri, atau pers yang alih-alih turut serta menyelesaikan masalah publik, justru mengambil manfaat dari masalah itu demi alasan politik atau bisnis.
Dia berharap pers nasional menjadi bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah. Kita membutuhkan pers yang menjadi penjaga keutuhan nasional dan bukan sebaliknya, menjadi bagian dari pihak-pihak yang bersengketa.
“Konteks Undang-undang Pers Nomor 40 tahun 1999, seutuhnya menjaga NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) agartetap kondusif,” katanya.
Sementara Ketua Dewan Pers Yoseph Adi Prasetyo mengatakan di era kebebasan pers ini institusi Dewan Pers menjadi tumpuan pengaduan dari berbagai pihak. “Kami bahkan sampai berdarah-darah untuk menegakkan pers yang memiliki integritas, dimana kenyataannya ada fenomena media teve terbelah, juga pers pun kondisinya sama,”ujarnya.
Dia menuturkan jumlah media di seluruh Indonesia mencapai 47.000 media, yang dinilai dari segi kualitas kurang memadai namun ada yang mengaku dan seolah olah berperan sebagai KPK, TNI, Polisi.
“Yang memprihatinkan pemilik media tidak menggaji wartawannya secara layak. Sehingga tak heran bermunculan wartawan tanpa kompetensi,”ujar pria yang akrap dipanggil Stanley ini.
Sementara itu Gubernur Jawa Tengah Gandjar Pranowo pencanangan gerakan Media Bermartabat untuk Pemilu Berkualitas dan berharap untuk bisa disebarluaskan ke daerah lain. “Semoga hal itu membuat pers nasional benar-benar dapat menjadi perekat persatuan, bersikap profesional dan memiliki integritas tinggi,”papar Ganjar.
Pencanangan gerakan ini ditandai dengan orasi dan pesan-pesan moral serta penanda tanganan di poster. (ton/lna)

Leave a Reply