Fly Over Manahan Ditarget Rampung Oktober 2018

fly over manahan
Pembangunan Fly Over Manahan Solo menggunakan teknologi Corrugated Mortarbusa Pusjatan yang memiliki masa konstruksi yang lebih cepat 50% | Foto : instagram sejatiteknik

JoSS, SOLO – Pembangunan Fly Over (FO) Manahan Kota Solo ditargetkan selesai pada Oktober tahun ini. Pengunaan teknologi Corrugated Mortarbusa Pusjatan (CMP) dinilai lebih efektif hingga 50% dibandingkan konstruksi beton.

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono menjelaskan pembangunan jembatan layang tersebut bertujuan mengatasi kemacetan akibat adanya perlintasan sebidang jalur rel kereta Solo-Yogyakarta.

Dia menjelaskan progress konstruksinya saat ini mencapai 45%, dia menargetkan pembangunan Fly Over (FO) Manahan di Kota Solo, Jawa Tengah, rampung pada Oktober 2018.

“Saat ini progresnya sudah 45% dan ditargetkan rampung pada Oktober 2018 sesuai dengan rencana. Pembangunannya menggunakan teknologi yang sama dengan Flyover Antapani di Kota Bandung, Jawa Barat, yaitu CMP,” kata Menteri Basuki, seperti dikutip dari Pu.go.id.

CMP merupakan pengembangan teknologi timbunan ringan mortar busa dengan struktur baja bergelombang. Kelebihan CMP yakni memiliki masa konstruksi yang lebih cepat 50% jika dibandingkan untuk konstruksi beton.

“Apabila menggunakan konstruksi beton butuh waktu 12 bulan, sementara dengan CMP hanya memerlukan waktu 6 bulan,” jelas Basuki.

Selain lebih cepat dari sisi waktu pengerjaannya, teknologi CMP juga lebih efisien dari sisi pembiayaan. Pelaksanaan konstruksi CMP juga tidak mengharuskan penutupan jalur kendaraan sehingga memberikan dampak yang relatif kecil terhadap kemacetan di sekitar lokasi konstruksi.

Basuki mengatakan kelebihan CMP lainnya adalah memiliki nilai estetis sehingga dapat menjadi bagian lansekap dan bahkan bisa menjadi landmark suatu kawasan.

Baca juga : Tol Bawen Jogja Dipastikan Di Atas Selokan Mataram

Konsumsi bahan alam dalam konstruksi CMP lebih rendah daripada konstruksi dengan teknologi beton sehingga dapat dikategorikan ramah lingkungan.

Pembangunan FO Manahan sepanjang 600 meter dan lebar 9 meter dilakukan oleh Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) VII, Ditjen Bina Marga dengan biaya sebesar Rp43,05 miliar.

FO Manahan akan memperlancar arus kendaraan dari Jalan Adi Sucipto dan Jalan MT. Haryono ke arah Jalan Dr. Moewardi dan sebaliknya.

Bertindak selaku kontraktor pembangunan FO Manahan adalah PT Yasa Patria Perkasa dan PT Virama Karya kerja sama operasi (KSO), sedangkan konsultan supervisi adalah PT Anugerah Kridapradana dan PT Disiplen Consult (KSO).

Selain membangun FO Manahan, Kementerian PUPR juga tengah membangun duplikasi Jembatan Tirtonadi sepanjang 55 meter di atas aliran Kali Pepe.

“Kita bangun duplikasi Jembatan Tirtonadi ke arah Purwodadi. Selama ini lalu lintas arah Solo-Purwodadi sering macet. Saat ini progresnya 39,49% dan ditargetkan Desember 2018 selesai,” ujarnya.

Total nilai kontrak pembangunan Jembatan Tirtonadi sebesar Rp40,03 miliar dan dikerjakan oleh PT Bima Agung – PT. Sari Mas Indah Sejahtera KSO.

Pada periode 2015-2017, Kementerian PUPR membangun 356 buah jembatan di berbagai daerah dengan total panjang 22.808 meter. Pada  2018 pembangunan jembatan mencapai 174 buah dengan total panjang 13.639 meter.

Selain jembatan, juga dibangun flyover dan underpass, yang tujuan utamanya untuk mengurai kemacetan di perkotaan. Pada 2015-2017 dibangun 40 underpass/flyover dengan total panjang 11.325 meter. Tahun ini akan dibangun 18 underpass dan flyover dengan total panjang 2.691 meter. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*