Tatanan Dunia Baru Dan Atau Kenormalan Baru: Sebuah Renungan

Mas Awo

MARI kita merenung sejenak, siapa tahu keruwetan dan ketidak-jelasan kondisi makro yang kita hadapi sekarang ini bisa sedikit terkuak.

Ada dua hal yang terasa membayangi perjalanan kita sekarang ini. Yang pertama adalah apa yang disebut sebagai “TATANAN DUNIA BARU” (TDB) atawa dalam bahasa Inggrisnya New World Order (NWO). Ada yang mencurigai bahwa segelintir orang tengah melakukan upaya menjadi “Penguasa Tunggal Dunia” melalui berbagai cara. Orang pintar bukan saja minum tolak angin, tapi memberi pemahaman dasar munculnya kecurigaan tersebut dalam kerangka “Teori Konspirasi”. Ini istilah keren yang membuat ita ikut bingung.

Yang kedua adalah “KENORMALAN BARU” (KB) yang dalam bahasa internasionalnya ditulis “New Normal” (NN). Alkisah, karena ada yang mencoba membangun tatanan baru, maka ujungnya terbentuk kenormalan baru. Hal yang lama harus ditinggalkan, standar interaksi dan mungkin juga pola sosial yang semula benar atau setidaknya baik untuk dilakukan, harus diubah. Atau setidaknya, menjadi dipertanyakan, atau bisa juga dianggap sebagai hal yang tidak layak lagi dilakukan.

Apakah TDB dan KB benar-benar berhubungan karena dirancang dari sononya, ataukah berkelindan karena kebetulan saja, walahualam. Apakah dua hal itu benar adanya, ataukah Cuma rabaan dan pikiran orang-orang yang pintar, kita juga tak tahu persis.

Suka atau tidak, setuju ataupun menolak, TDB dan KB secara lamat-lamat mulai dirasakan orang. Seperti semua orang kalau ingin ketinggalan harus punya akun media sosial dan email yang ternyata bermuara di google. Harus punya perankat yang disebut handphone atau telepon seluler yang legal agar bisa melakukan transaksi secara online dengan mudah. Kemunculan pola perdagangan yang melewati batas wilayah negara dengan gampang yang membuat banyak negara ketar-ketir karena bakal kehilangan kewenangan mengenakan pajak.

Tak dapat dipungkiri pula kalau apa yang disebut “Aplikasi” sekarang ini begitu penting dan berharganya tak beda dengan peralatan mesin produksi manufaktur yang berada di tanah puluhan ribu meter, Yang bisa dilihat nyata misalnya perubahan model bisnis dan layanan angkutan khusus seperti taksi dan ojek misalnya. Juga makin besarnya porsi penjualan makanan via online, kepemilikan nilai uang yang mulai beralih dari fisik dan Kartu ATM serta Kartu Kredit ke dompet elektronik macam OVO, go pay dan pay pal untuk menyebut beberapa contoh.

Untuk bisa memilah mana yang masuk kategori TDB atakah KB, memang tidak gampang. Barangkali hanya orang yang punya indera dan pengetahuan khususlah yang bisa menjelaskan. Tapi itulah yang terjadi sekarang. Sebuah kondisi bagi orang yang usianya di atas 50 tahun, tak terbayangkan bakal terjadi. Ada baiknya kalau kita beljar memahami TDB dan KB supaua – seperti piweling Jawa, kita tidak kaget, tidak gumun (takjub) sehingga tetap mampu berperan dalam kehidupan bersama.

TDB alias NWO

Teori konspirasi yang dianggap sebagai dasar munculnya pemahaman adanya  Tatanan Dunia Baru (TDB) alias New World Order (NWO) bisa jadi tercetus ketika orang mencermati Lambang Amerika Serikat yang muncul tahun 1776 dimana tertulis Frasa Latin “novus ordo seclorum”, dan kemudian di tahun 1985 muncul dalam pecahan uang kertas satu dolar AS. Novus ordo seclorum  yang jika diterjemahkan menjadi “Tatanan Baru pada Zaman Ini” oleh orang-orang yang percaya teori konspirasi diartikan sebagai “Tata Dunia Baru”. Peran AS di dunia internasional, dan gayanya sebagai polisi dunia, memperkuat dugaan ini.

Saat tahu bahwa Presiden AS juga punya keterbatasan dalam kebijakan internasional, setidaknya ada Konggres yang bisa menyetorp aksinya, tudingan bahwa AS adalah sosok yang diduga ingin menjadi penguasa dunia, sedikit bergeser. Apalagi dalam soal pencetakan uang, ternyata The Fed adalah lembaga swasta yang tidak bisa begitu saja diatur oleh penguasa AS. Lantas muncul adanya “sekelompok orang” yang bisa mengendalikan AS dan mereka disebut sebagai kelompok iluminati. Ada juga yang menyebutnya sebagai fremansori yang konon berisi orang-orang Yahudi.

Puluhan tahun kelompok yang disebut pengendali itu tak pernah bisa dimunculkan ke publik. Keberadaannya hanya menjadi semacam dongeng saja, tapi penganut teori konspirasi justru memakainya untuk menguatkan dugaannya. Kelompok itu memang rahasia, karena itu tidak bisa ditampilkan, begitu dalihnya.

Kehadiran teknologi informasi yang berkembang sangat pesat, di mana ada orang keturunan Yahudi yang pegang kendali seperti Mark Zuckerberg, anggapan bahwa kelompok rahasia itu betul adanya, dan diisi oleh wahyudi –eh maaf yahudi, menguat lagi. Bill Gates pun diduga Yahudi, atau setidaknya berbau Yahudi.

Saat wabah Covid-19 atau yang popler dengan wabah corona 19 ini menyerang, yang memaksa ratusan juta orang mengubah kebiasaan seperti bekerja dari rumah, belajar di rumah, belanja dari rumah dan dikenakan pembatasan sosial sehingga teknologi informasi begitu dominan, tuduhan terhadap Bill Gates menguat. Kenapa, karena dia pernah bicara akan terjadi wabah besar di tahun 2020. Tudingan makin menguat karena Gates Foundation membiayai riset untuk menemukan vaksin Covid-19.

Maka jangan heran kalau berseliweran tulisan baik lewat whatsapp maupun media lain bahwa Bill Gates dan beberapa orang terkaya di dunia seperti Mark Zukerberg, Jeff Bezos, Elon Musk, Keluarga Rockefeller dan lain-lain berkonspirasi memanfaatkan pandemi COVID-19 untuk mengurangi populasi penduduk dunia. Mekanisme yang dituduhkan adalah melalui program ID 2020, sebuah program untuk mengidentifikasi manusia menggunakan digital identity atau identitas digital.

Dari rumor yang muncul, ID2020 akan menjadi alat mendata penduduk bumi untuk kemudian diberi vaksin COVID-19 yang entah bagaimana caranya dapat bertransformasi menjadi memiliki fungsi chip di tubuh orang. Dengan tertanamnya chip, orang dengan mudah “dibinasakan”kalau tidak patuh pada aturan dunia baru.

Wacana itu makin ramai ketika seorang pastor di di Bedfordshire, Inggris bernama Jonathon James yang mengaku pernah bekerja di Vodafone, melontarkan tuduhan serupa melalui rekaman berdurasi 38 menit. Jutaan orang terhanyut dalam analisis James.

Bill Gates, tokoh sentral tuduhan itu, saat diwawancara oleh CCTV (China Central Television) 9 April 2020 menyebut tuduhan itu sebagai ironi. Gates heran orang yang sudah berusaha sekuat tenaga dan menyediakan dana jutaan dollar untuk membantu ditemukannya vaksin untuk COVID-19, malah disebut konspirator. Tapi suami dari Belinda ini lantas menukaskan dengan enteng, dengan memaklumi apa yang terjadi karena saat ini kita semua memang berada crazy situation sehingga sangat mungkin crazy rumors. Sekilas jawaban Gates memangkas tuduhan itu, meski saya pribadi agak bingung kenapa klarifikasi Gates dilakukan di TV China yang sekarang disorot sebagai sumber wabah Covid-19?

Ya, kenapa ya?

KB alias NN

Masker sekarang seolah sudah menjadi perangkat wajib bagi semua orang. Hand sanitizer dan vitamin C pun sekarang menjadi persediaan wajib bagi keluarga. Ada yang menambahkan sarung tangan, lantas lingkungan dan gedung umum kini secara rutin berbelanja desinfektan secara rutin, setara dengan zat pembersihan ruangan-ruangan. Orang mulai diarahkan untuk bekerja di rumah, siswa dan mahasiswa mulai menerapkan pola belajar daring, bahkan rapat-rapat resmi sekarang tidak harus dilakukan dalam satu ruangan yang sama.

Di akhir tahun 2018, beberapa ahli telah mengingatkan adanya dua ekonomi baru, yakni Digital Economy dan Leisure Economy. Ekonomi digital, sudah jadi bagian kehidupan kita sekarang. Ada dompet elektronik, ada transaksi elektronik, sebentar lagi tandatangan elektronik juga akan diterapkan, orang gak perlu pegang uang tunai lagi. Pengalihan barang pun bisa dilakukan dengan “perintah secara elektronik”.

Adapun fenomena Leisure Economy bukan hanya orang senang pesiar dan mencoba berbagai kuliner untuk memuaskan diri dan berselfi, tapi juga sudah mulai muncul model pesiar sambil bekerja. Sayangnya karena wabah Covid-19, sekarang bekerjanya dari rumah bukan sambal pesiar lagi. Tapi mudah-mudahan ini hanya untuk sementara waktu saja.

Secara lamat-lamat tapi pasti, ada bentuk-bentuk kenormalan baru mulai lahir. Kebiasaan hidup seperti digiring ke arah yang tak terbayangkan sebelumnya. Model bisnis pun, mulai mengalami perubahan mendasar, orang pintar menyebutnya sebagai disrupsi. Kebiasaan lama diluluh-lantakan, pola baru mulai diterapkan.

Ada yang terasa mengganjal di dada. Siapa sih yang tega-teganya mencoba mengubah dan mengarahkan kebiasaan orang banyak kedalam pola-pola yang tidak terbayangkan sebelumnya? Siapa yang dapat untung dari diterapkannya kenormalan-kenormalan baru? Apakah hanya AS dan China yang sekarang terlibat perang dagang.

Wabah Covid-19 seolah mengubah evolusi kebiasaan manusia yang biasa berlangsung tahunan, kini menjadi serentak hanya dalam hitungan bulan. Soal siapa yang diuntungkan, semua orang bisa ambil kesempatan karena semua terbuka dan bisa diamati.

Baca juga: Kapan Wabah Corona Berakhir?

Pakar pemasaran Yuswohady membuat rincian, ada 30 perilaku konsumen yang masuk dalam New Normal karena wabah Covid-19. Di antaranya  perubahan online shopping yang semula didominasi produk yang sifatnya keinginan beralih ke kebutuhan pokok, food deliveryberubah arah dari makanan kesenangan ke makanan rutin, hidupnya kembali kebiasaan memasak kaum milenial yang sempat hilang, maraknya kembali menimbun makanan kemasan, serta kembali berperannya siaran televise dalam kehidupan kita.

Selengkapnya silakan simak di: https://www.yuswohady.com/2020/04/23/perilaku-konsumen-di-new-normal/

Yang menjadi pertanyaan, apakah kenormalan baru itu sifatnya sementara ataukah permanen, hanya waktu yang bisa menjawabnya. Yang pasti, kita harus ambil kesempatan ikut berperan dalam situasi sekarang. Tentunya sembari memperkuat kemampuan menyediakan sendiri kebutuhan pokok, minimal sayuran dengan memanfaatkan ruang yang ada.

Jadi teringat piweling Sri Mangkunagora IV tentang bagaimana hidup dan bekerja yang disebut Asthagina, yakni harus punya pekerjaan yang menghasilkan (panggaotan), terampil (rigên), hemat (gêmi), teliti (nastiti pamriksa),mau berhitung dan membuat rencana ( wruh étung), kritis dan mempertanyakan hal-hal baru (tabêri têtanya), mampu mengendalikan keinginan (nyêgah kayun), dan bersungguh-sungguh (nêmên ing Sêdya).

Dan, hidup ini memang harus sesuai dengan zamannya. Nut ing jaman kelakone.

*) Penulis adalah Wartawan Anggota PWI

Update artikel baru dari tulisan ini : Tatanan Dunia Baru Dan Atau Kenormalan Baru: Sebuah Renungan

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*