Jalan Sunyi WO Ngesti Pandawa, Talok, dari Panggilan Pembawa Keberuntungan Hingga Harus “Kucing-Kucingan” dengan Serdadu Belanda

Foto: myimage.id
Bambang Iss Wirya

Kasinem dilahirkan di Baturetno Solo dengan tanggal dan tahun yang tidak ia ingat lagi. Tapi garis-garis kecantikan yang tersisa masih tampak dan menunjukkan kalau wanita ini dulu memang dari panggung. Jika mendengar tutur bahasanya dengan bahasa Jawa krama alus (bahasa Jawa halus), semakin meyakinkan, wanita ini memang orang didikan wayang wong.

Ibu Talok mengaku bergabung WO Ngesti Pandawa sejak umur 7 tahun. Ki Sastro Sabdo (pendiri utama Ngesti Pandawa) yang mengajak Kasinem kecil agar belajar beksan (menari) dan nembang lantas menampilkannya di atas panggung tobong. Kedekatannya dengan Sastro Sabdo terbukti dengan adanya paraban (nama panggilan) yang diberikan pada Kasinem dengan panggilan “Talok”.

Menurut ceritanya dulu Sastro Sabdo sering melihat Kasinem mencari buah talok (kersen), manakala setiap hari gadis itu memetik talok dari pohonnya, sehingga sering mangkir dari jadwal latihan menari. Pak Sastro pun mencarinya ke sana kemari.

Maka demi melihat Kasinem yang suka mencari buah talok itulah, Ki Sastro Sabdo menjulukinya dengan Talok. Panggilan akrab yang akhirnya membawa keberuntungan di kemudian hari dan sanggup mengantarkannya berkenalan dengan Presiden Soekarno.

Jika mulai bergabung dengan Ngesti Pandawa sejak usia tujuh tahun, maka saat itu ia menjadi pemain wayang paling muda. Karena masih terlalu kecil itulah, Ibu Talok mengaku harus “kucing-kucingan” dengan petugas atau serdadu Belanda yang kala itu aktif melakukan razia karena tidak merekomendasi anak-anak berkesenian dengan main wayang orang.

Terkait dengan pelarangan anak-anak kecil bermain wayang oleh pemerintah (Belanda) waktu itu, beberapa sumber di Ngesti Pandawa yang ditemui penulis mengakui adanya fakta itu. Bahwa sensir (sensor/semacam razia) terus dilakukan terhadap bentuk seni pertunjukan yang dipertontonkan di tengah khalayak ramai.

WO Ngesti Pandawa juga tidak luput dari sasaran sensir Belanda. Ibu Talok merasakan bagaimana ia dilarang tidak boleh pentas wayang dengan alasan usia. “Tapi begitu landi (Belanda) menyingkir, ya saya nekat naik panggung lagi,” cerita Ibu Talok sambil tertawa.

Karier wayang Ibu Talok terus melaju seiring pernikahannya dengan Suratno yang juga pemain watak Ngesti Pandawa. Suami istri itu ikut berjasa mempopulerkan Ngesti Pandawa sampai tahun 80a-an seperti halnya pasangan suami isteri pemain legendaris dari WO Sriwedari (Sala) yakni Rusman dan Darsi.

Peranan tokoh Arjuna paling sering dimainkan Bu Talok. Itu dilakukan jauh sebelum ada tradisi tokoh bambangan dimainkan oleh pria seperti sekarang ini. Fenomena bambangan dimainkan pria, karena dirasakan mulai langka pemain wanita, Tidak heran jika Bu Talok dan juga nama lain seperti Suwarni (alm) dan Sundari (alm) selalu ditunggu oleh penonton.

Baca juga: Jalan Sunyi WO Ngesti Pandawa, Pertemuan yang Bersejarah

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*