Jalan Sunyi WO Ngesti Pandawa, Dua Sisi Anak Wayang Generasi Muda Ngesti Pandawa

Foto: instagram ngesti_pandowo
Bambang Iss Wirya

Awal tahun 2000-an Ngesti Pandawa menginjak era generasi ketiga. Pada fase ini lahir  beberapa pemain baru yang dinamakan sebagai “Generasi Muda Ngesti Pandawa”. Dengan banyaknya para pemain baru ini, di satu sisi menjadi sebuah kebanggaan, karena setidaknya proses regenerasi bisa berjalan, sisi lainya sebenarnya belum sesuai yang diharapkan.

Proses regenerasi akhirnya belum berjalan dengan sepenuhnya. Di bagian lain, mereka Generasi Muda Ngesti Pandawa yang diprakarsai Cicuk Yuli Ismanto, salah satu anak dari Sastro Soedirdjo yang saat itu memimpin, tidak banyak tahu sejarah perjalanan Ngesti di masa lalunya.

Karena tampaknya selama itu pula tidak ada upaya dokumentatif akan perjalanan Ngesti Pandawa dari tahun ke tahun, kecuali cerita dari mulut ke mulut dari orang tua mereka.

Pada awal berdirinya di Madiun Jawa Timur tanggal 1 Juli 1937 sampai menjelang kemerdekaan, semangat para seniman wayang waktu itu begitu membara, karena telah rupanya terkondisi oleh situasi penjajahan waktu itu. Situasi inilah yang membuat Ngesti terus tumbuh, dengan disangga oleh lima seniman yang memiliki rasa sepenanggungan terhadap seni pertunjukan.

Penamaan Ngesti Pandawa pun tentu bukan tidak punya alasan, karena sesuai dengan artinya, yaitu Ngesti yang berarti siji (satu) dan Pandawa yang berarti lima. Maknanya adalah lima kekuatan yang menjadi satu dalam menggerakkan seni pewayangan.

Hal itu dipertegas oleh Djoko Muljono yang mencatat dalam buku hariannya mengenai  nama Ngesti Pandawa, yaitu : ngesti siji, pandawa tegese lima, siji anggayuh uga Marsudi, lima iku daya uripe saksama.

Artinya: lima orang pendiri menyatu bertekad bulat untuk melestarikan dan mengembangkan kesenian wayang orang Ngesti Pandawa.

Suksesi pergantian pucuk pimpinan Ngesti Pandawa terus berlangsung seiring dengan perjalanan waktu dan situasi. Bisa dilihat, perpindahan pengelolaa dari Sastro Sabdo ke Sastro Soedirdjo sepeninggal Sastro Sabdo pada 1966 bisa disebut sebagai suksesi mulus dan penuh kekeluargaan.

Pergantian pengelolaan ini sebagai momentum besar di dalam tubuh Ngesti Pandawa. Mengingat kedua tokoh pendiri itu memang masih memiliki pertalian keluarga (istri Sastro Sabdo adalah kakak Sastro Soedirdjo), bahkan melalui penguatan legalitas hukum di depan notaris sebagai keabsahan momentum hibah aset kepemilikan.

Meski disebut sebagai salah satu dari pendiri, Sastro Soedirdjo bukan berarti sebelumnya  menekuni dunia pewayangan, karena sebelum menjadi salah satu petinggi Ngesti Pandawa, kesehariannya Sastro  adalah seorang pegawai perusahaan otobus penumpang antar kota. Pengalaman sebagai pemegang urusan administrasi itulah yang membawanya ke perkumpulan Ngesti Pandawa untuk membenahi administrasi keuangan.

Maka resmi Ngesti Pandawa tumbuh berkembang di Semarang, setelah perkumpulan ini menyudahi pentas kelilingannya dan meninggalkan sistem tontonan tobong.. Semasa berada di GRIS (Gedung Rakyat Indonesia Semarang) WO Ngesti Pandawa seperti diceritakan oleh Djoko Muljono, sangat ditunggu masyarakat.

Betapa saat itu orang harus pesan tempat lebih dulu sebelum datang menonton dengan kapasitas 1.000 kursi. Jika tidak pesan pagi hari tidak akan mendapatkan tempat duduk. Hal demikian ini bisa terjadi karena saat itu kebutuhan masyarakat akan tontonan atraksi kesenian tidak terpenuhi.

Baca juga: Jalan Sunyi WO Ngesti Pandawa, Tangan Dingin Ki Sastro Soedirdjo Yang Nyembadani

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*