Pemkab Boyolali Perpanjang Status Siaga Darurat Kekeringan

Pemkab Boyolali resmi memperpanjang status siaga darurat kekeringan hingga 20 Desember 2026.
Warga di Boyolali saat menerima bantuan air bersih pada Kamis (26/9/2026). (Istimewa)
BOYOLALI, JOSS.CO.ID – Gerimis dan mendung tipis memang mulai menyapa beberapa titik. Namun, krisis air bersih di Kabupaten Boyolali belum sepenuhnya mereda. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Boyolali resmi memperpanjang status siaga darurat kekeringan selama 50 hari ke depan, mulai 1 November hingga 20 Desember 2026.
Bupati Boyolali memimpin langsung rapat evaluasi penanganan bencana di kantornya pada Rabu (28/10/2026) untuk mengambil keputusan strategis ini.
”Dari hasil rapat evaluasi yang dipimpin Bapak Bupati, dilakukan perpanjangan terkait status siaga darurat mulai 1 November sampai 20 Desember 2026 atau 50 hari,” ujar Plt Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Boyolali, Ari Wahyu Prabowo, saat wartawan mengontaknya pada Rabu.

BPBD Giatkan Distribusi 12 Juta Liter Air Bersih

Ari menjelaskan bahwa debit air pada sumber-sumber mata air warga belum pulih sepenuhnya, meski hujan mulai membasahi wilayah Boyolali. Karena itu, BPBD akan terus menggelontorkan pasokan air bersih demi menyokong kebutuhan harian masyarakat.
”Sehingga dropping air bersih terus kami lakukan sampai kondisi di lapangan benar-benar selesai, masyarakat sudah tidak perlu dropping lagi. Pemkab Boyolali akan terus melakukan dropping air bersih, menargetkan hingga Desember itu sekitar 12 juta liter air bersih,” jelasnya.
Krisis air saat ini melanda 13 dari total 22 kecamatan di Boyolali. Petugas BPBD mencatat telah menyalurkan lebih dari 9 juta liter air bersih ke kawasan terdampak. Selain itu, BPBD menginstruksikan para camat untuk memantau dinamika kebutuhan warga di lapangan secara intensif.
”Tidak menutup kemungkinan ada penambahan wilayah kekeringan atau wilayah tertentu yang sempat kekeringan sudah tidak perlu melakukan droping lagi karena hujan,” kata dia.

BMKG Peringatkan Potensi Bencana Hidrometeorologi

Pihak Pemkab memperpanjang status siaga ini setelah mempertimbangkan analisis dinamika cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). BMKG memprediksi fenomena El Nino masih bertahan dalam kondisi kuat hingga sangat kuat selama Oktober–November, lalu meluruh pada Desember.
”Informasi dari BMKG, akan terjadi perlambatan turun di bulan Desember. Nanti intensitasnya [pada Desember] tinggi,” pangkas Ari.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, mengungkapkan awal musim hujan tahun ini di 529 zona musim (ZOM) atau 61,08 persen daratan Indonesia mengalami kemunduran dari rata-rata klimatologinya. BMKG mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai rentang waktu yang sangat singkat dari awal musim hujan menuju puncaknya.
“Periode antara masuknya musim hujan dengan puncak relatif dekat dan durasinya lebih pendek, sehingga kita perlu mewaspadai lonjakan curah hujan yang berpotensi memicu banjir dan tanah longsor,” tutur Ardhasena.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*