Sejarah Pembangunan Waduk Gajah Mungkur Wonogiri: Proyek Raksasa Era Soeharto dan Duka di Balik Bedhol Desa

Mengulas sejarah pembangunan Waduk Gajah Mungkur Wonogiri di era Soeharto, manfaat pengendalian banjir Bengawan Solo, hingga kisah pilu peristiwa Bedhol Desa.

WONOGIRI, JOSS.CO.ID — Waduk Gajah Mungkur yang membentang di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, berdiri teguh sebagai salah satu bukti sejarah infrastruktur raksasa di Indonesia. Dibangun pada masa pemerintahan Presiden Soeharto, waduk ini menelan waktu pembangunan selama tujuh tahun, mulai dari 1974 hingga 1981.

Mengutip data dari laman Dinas Arsip dan Perpustakaan Wonogiri, pembangunan megastruktur ini menghabiskan dana yang sangat fantastis pada zamannya, yakni mencapai sekitar 111 juta dollar AS. Proyek besar ini dirancang sebagai bagian dari program Pelita II (Rencana Pembangunan Lima Tahun Kedua) periode 1974–1979.

Menariknya, tidak seperti mayoritas proyek infrastruktur besar lainnya, pembangunan Waduk Gajah Mungkur dilaksanakan secara mandiri oleh Kementerian Pekerjaan Umum tanpa melibatkan kontraktor swasta. Setelah melalui proses pengerjaan panjang dan rumit, waduk seluas kurang lebih 8.800 hektar ini akhirnya diresmikan langsung oleh Presiden Soeharto pada 17 November 1981.

Latar belakang pembangunan Waduk Gajah Mungkur berakar dari persoalan kronis yang kerap melanda masyarakat di sepanjang aliran Sungai Bengawan Solo. Sebagai sungai terpanjang di Pulau Jawa, Bengawan Solo ibarat pisau bermata dua: memberikan penghidupan, namun juga sering membawa bencana.

  • Musim Hujan: Debit air membengkak drastis hingga memicu banjir dahsyat. Luapan airnya bahkan tercatat pernah merendam kawasan persawahan dan pemukiman seluas 93.600 hektar yang membentang dari Solo, Sragen, Bojonegoro, hingga Lamongan.
  • Musim Kemarau: Aliran air menyusut tajam, menyebabkan kekeringan parah, krisis air bersih, dan kegagalan irigasi pertanian.

Kondisi ekstrem ini mendorong Pemerintah Orde Baru merancang sistem pengelolaan air terpadu. Beroleh dukungan dana hibah dan pinjaman dari Pemerintah Jepang melalui Overseas Economic Cooperation Fund (OECF)—sekarang dikenal sebagai Japan International Cooperation Agency (JICA)—Waduk Gajah Mungkur pun dibangun.

Proyek ini menjadi bagian penting dari Proyek Bengawan Solo, yakni sebuah program pengembangan yang mencakup pembangunan empat waduk besar di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Tujuannya tegas: mengubah Bengawan Solo dari ancaman bencana menjadi sumber daya produktif untuk irigasi, penyediaan air bersih, hingga Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).

Di balik megahnya fungsi waduk bagi Jawa Tengah dan sekitarnya, terdapat pengorbanan sosial yang sangat besar dari masyarakat lokal Wonogiri.

Untuk merealisasikan waduk ini, pemerintah membebaskan lahan seluas 10.156 hektar yang mencakup area pemukiman warga, fasilitas umum, hingga tanah pertanian subur. Dampak besarnya:

  • 51 desa di tujuh kecamatan di Kabupaten Wonogiri terpaksa ditenggelamkan.
  • 12.525 Kepala Keluarga (KK) atau sekitar 68.750 jiwa harus merelakan tanah kelahirannya.

Peristiwa eksodus massal ribuan warga yang berpindah ke wilayah lain (terutama melalui program transmigrasi ke luar Jawa) ini mencatatkan sejarah kelam yang populer dengan sebutan Bedhol Desa.

Proses pembebasan lahan dan pemindahan puluhan ribu warga tidak berjalan sepenuhnya mulus. Pemerintah saat itu memutuskan memberikan uang ganti rugi secara bertahap kepada warga terdampak. Kebijakan ini diambil atas kekhawatiran timbulnya fenomena “kaya mendadak” jika uang diterima dalam jumlah besar sekaligus, yang berisiko mengganggu stabilitas sosial-ekonomi serta memicu ketidakmampuan mengelola keuangan jangka panjang.

Kendati demikian, gelombang penolakan tetap tak terhindarkan. Catatan sejarah menunjukkan bahwa pada tahun 1980, terdapat sekitar 1.850 kepala keluarga yang menolak dipindahkan. Mereka memilih bertahan di rumah dan tanah kelahirannya, meski menyadari risiko desa mereka akan tenggelam sepenuhnya saat waduk mulai digenangi air.

Kini, Waduk Gajah Mungkur tidak hanya berfungsi sebagai benteng pengendali banjir dan penyokong ketahanan pangan pertanian, tetapi juga berdiri sebagai saksi bisu pengorbanan besar puluhan ribu warga Wonogiri demi pembangunan nasional.

Baca Juga: Polres Wonogiri Ungkap Penyalahgunaan BBM Bersubsidi Pertalite di Bulukerto

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*