Unik Pakai Kereweng! Kenduri Batik Batang Libatkan 26 UMKM dan Sedot Antusiasme Pengunjung

Sejumlah pengunjung (kanan), menukar uang dengan kreweng dalam Acara Kenduri Batik di Destinasi Wisata Sikembang, Kabupaten Batang, Sabtu (17/10/2026).

BATANG, JOSS.CO.ID – Pelestarian budaya dan penguatan ekonomi kreatif berjalan beriringan di Kabupaten Batang. Gelaran Kenduri Batik yang diinisiasi Pemerintah Kabupaten Batang tak hanya sukses melestarikan batik khas daerah, tetapi juga memberikan dampak ekonomi langsung bagi puluhan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) melalui bazar kuliner dan produk lokal.

Acara yang dipusatkan di Destinasi Wisata Alam Sikembang Park, Kecamatan Blado, Kabupaten Batang, Sabtu (17/10/2026) ini menyedot antusiasme tinggi dari para pengunjung. Salah satu daya tarik utamanya adalah konsep transaksi unik yang mewajibkan pengunjung bertransaksi menggunakan kreweng atau uang dari tanah liat.

Sebanyak 26 stan dipadati ragam sajian makanan, minuman khas Batang, hingga produk kerajinan batik. Para pelaku UMKM menyambut positif kesempatan ini, salah satunya Dian, penjual makanan tradisional yang menjajakan mi kenyol, pecel, hingga buntil.

“Menunya masih segar karena masaknya juga baru matang tadi pas subuh, harganya juga merakyat Rp10 ribu sudah mengenyangkan,” katanya, saat ditemui di lokasi acara.

Dian mengaku suasana di bawah rindangnya pohon pinus Sikembang Park membuat suasana bazar terasa makin syahdu. Menurutnya, penggunaan sistem pembayaran tradisional menjadi pengalaman seru bagi pembeli.

“Suasananya mendukung, stan kami ada di bawah pohon pinus, jadi sangat syahdu. Menariknya, konsumen yang ingin menikmati menu harus membayar menggunakan alat tukar berupa kereweng. Satu kreweng Rp5 ribu jadi murah meriah,” jelasnya.

Ia pun mengapresiasi Disperindagkop dan UKM Kabupaten Batang atas penyelenggaraan acara ini. Dian berharap agenda serupa bisa rutin digelar untuk membantu UMKM memperluas jangkauan pasar dan mencapai target penjualan.

Sensasi belanja menggunakan pecahan tanah liat ini juga mendapat pujian dari pengunjung. Ahmad dan Siti, pasangan pengunjung asal Batang, mengaku terkesan dengan konsep bazar di tengah alam terbuka tersebut.

“Apalagi bayar pakai kereweng sebagai alat tukar itu unik sih, beda dengan yang lain,” ungkapnya.

Melihat tingginya respons masyarakat, Ketua Dekranasda Batang, Faelasufa Faiz Kurniawan, berharap event dengan konsep serupa dapat digelar dengan frekuensi yang lebih rutin.

Proses transaksi pun dibuat sangat mudah dan adaptif terhadap teknologi. Pengunjung dapat menukarkan uang tunai maupun pembayaran nontunai via QRIS dengan kreweng sebelum berbelanja di stan.

“Caranya bisa ditukar terlebih dahulu, baik uang tunai maupun menggunakan QRIS, dengan kereweng. Lalu menggunakannya sebagai alat tukar pengganti uang tunai,” ujar dia.

Faelasufa juga membeberkan bahwa pihaknya tengah berkoordinasi dengan pemangku kebijakan untuk menghidupkan kembali agenda rutin Pasar Minggon Jatinan, mengingat dampak ekonominya yang terbukti nyata bagi masyarakat.

“Tentu semua membutuhkan proses, saat ini sedang dimatangkan bersama dinas atau instansi terkait. Masyarakat tinggal menunggu saja, semoga bisa secepatnya digelar kembali,” tandasnya.

Baca Juga: Karnaval SCTV Batang Jadi Berkah Bagi Pelaku UMKM, Omzet Naik Hingga 50 Persen

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*