
KARANGANYAR, JOSS.CO.ID — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karanganyar resmi menetapkan status tanggap darurat bencana kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di lereng Gunung Lawu selama 14 hari ke depan. Surat keputusan tersebut telah ditandatangani langsung oleh Bupati Karanganyar sebagai langkah percepatan penanganan.
Penetapan status darurat ini krusial untuk mempermudah pengerahan bantuan dari pemerintah pusat, membuka akses penganggaran, serta menguatkan koordinasi lintas instansi guna memadamkan api di medan lereng yang terjal.
Wakil Bupati Karanganyar, Adhe Eliana, mengungkapkan bahwa status tanggap darurat menjadi landasan utama sinergi antara Pemkab, TNI, Polri, dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Saat ini, pihak Pemkab sedang memproses pengajuan armada water bombing ke pusat.
“Ini dalam rangka untuk percepatan penanganan karena ini kan di hutan Lawu, jadi untuk pemadaman manual tidak memungkinkan. Setelah proses koordinasi ini selesai, kami koordinasi dengan BNPB untuk melakukan water bombing,” kata Wakil Bupati Karanganyar, Adhe Eliana, Senin (19/10/2026).
Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) BPBD Karanganyar, Sugiharjo, menjelaskan bahwa selain permohonan pengeboman air (water bombing), Pemkab juga mengajukan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) kepada BNPB dan BMKG.
“Bupati sudah membuat surat ke BNPB untuk meminta bantuan water bombing dan modifikasi cuaca. Mengenai modifikasi cuaca, pihak BMKG menyampaikan pelaksanaannya sangat tergantung pada keberadaan bibit awan di sekitar lokasi,” ujar Sugiharjo.
Upaya pemadaman oleh tim gabungan mulai membuahkan hasil. Berdasarkan evaluasi menggunakan drone thermal Basarnas dan pantauan aplikasi Siphongi, jumlah titik api di lereng Gunung Lawu mengalami penurunan yang signifikan.
“Awalnya ada 11 titik api, lalu dikurangi jadi tujuh, dan hasil evaluasi tadi malam terpantau sisa satu titik di atas Pringgondani. Hari ini tiga posko naik semua untuk menyatukan kondisi, melakukan pemadaman, serta membuat sekat atau kilaran api,” ucap Kalakhar.
Meski titik api aktif tersisa satu di kawasan atas Pringgondani, tim gabungan di jalur darat tetap bersiaga penuh mengawasi sisa bara dan asap arang agar tidak memicu kebakaran susulan. Pemkab memastikan keselamatan para relawan dan petugas gabungan menjadi prioritas utama selama proses penyekatan.

Leave a Reply