Ketua DPD Golkar Jateng: Penelitian CELIOS Tendensius

Ketua DPD Golkar Jateng Mohammad Saleh menilai riset Celios soal rapor merah Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sangat tendensius karena menyeret unsur Kabinet Bayangan.
Ketua DPD Partai Golkar Provinsi Jawa Tengah, Mohammad Saleh

SEMARANG, JOSS.CO.ID —Ketua DPD I Partai Golkar Jawa Tengah, Mohammad Saleh menilai penelitian yang dilakukan Centre of Economic and Law Studies (CELIOS) bertajuk “Rapor Dua Tahun Kinerja Pemerintahan Prabowo-Gibran” yang salah satu poinnya menghakimi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia sebagai menteri berkinerja terburuk merupakan kajian yang tendensius karena memasukan unsur “Kabinet Bayangan” dalam kajiannya.

“Saya tidak mau menanggapi metoda dan soal teknisnya. Yang saya kecewa dengan penelitian ini adalah memasukan unsur Kabinet Bayangan dalam prosesnya, sehingga patut diduga ada framing dan tendensi di dalamnya,” kata Mohammad Saleh, doktor ilmu hukum dan kandidat doctor energi di Universitas Diponegoro, saat diminta pendapatnya terkait publikasi penelitian CELIOS, Rabu (14/10/2026).

Menurut dia, tidak lazim dalam format penelitian melibatkan “Kabinet Bayangan”, kelompok politisi oposisi yang kehadirannya memang untuk “membayangi” atau menandingi portofolio kementerian tertentu yang ada di pemerintahan resmi.

Karenanya, pelibatan “Kabinet Bayangan” menjadi rawan membawa bias politik, cenderung subjektif untuk mendiskreditkan kebijakan eksekutif, ketimbang murni penilaian akademis yang steril dari kepentingan kelompok.

Dalam konteks system politik demokrasi yang diterapkan di Indonesia, Saleh menganggap kemunculan kabinet bayangan di Indonesia pada akhir Juli 2026 juag suatu keanehan karena Indonesia memakai Kabinet Presidensil.

Pola cabinet bayangan atau shadow cabinet itu bagian dari dari sistem parlementer seperti di Inggris atau Australia. “Lha ini system presidensil, kok ada kabinet bayangan. Ada-ada saja,” tutur Saleh setengah berkelakar.

Adapun dalam konteks penilaian terhadap Menteri ESDM Bahlil Lahadalia yang dimasukan dalam kelompok Menteri berkinerja buruk, kohqmmad Saleh yang juga Wakil Ketua DPRD Jateng menduga kuat itu sekedar justifikasi politik. Dia menguraikan, kinerja Bahlil yang juga Ketua Umum Partai Golkar paten & oke.

Program kedaulatan energi dengan Mandatori B50 bukan saja mengemat devisa namun menuju penghentian impor solar. Bahlil juga konsisten mempercepat peta jalan hilirisasi mineral dan batubara (minerba), sehingga nilai ekspor nikel Indonesia dari yang awalnya hanya sekitar US$3,3 miliar (2017–2018) meroket melampaui US$40 miliar.

Sebagai Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil bukan hanya popular di kalangan internal. Popularitasnya merasuk ke pedesaan bahkan sampai ke kalangan anak-anak sekolah. “Jangan dilupakan, hasil beberapa survey politik, elektabilitas Partai Golkar naik cukup signifikan,” dia menambahkan.

Karenanya, dengan tegas Ketua DPD Partai Golkar Jateng yang juga menjabat sebagai wakil Ketua DPRD Jateng, M Saleh, berkesimpulan “rapor politik” yang dibuat CELIOS adalah publikasi yang tendensius dan sudah terbingkai. Arah politiknya sudah jelas dan teras, “Jadi tidak perlu ditanggapi berlebihan”.

Dia berharap jika melakukan survey apalagi menyangkut pemerintahan secara keseluruhan, dilakukan dengan accurate balance and clear. “Lakukan kajian tanpa tendesi, pasti kami akan dengan senang menerimanya. Sebaik apapun yang dilakukan pemerintah, tetap perlu perimbangan yang sehat dan adil,” tukasnya. (***)

Baca Juga: Mohammad Saleh: Penugasan Sarmuji Sebagai Menteri Perindustrian Keputusan yang Tepat

Baca Juga:Ketua Golkar Jateng Meyakini Pengangkatan Bahlil Lahadalia sebagai Menko Hilirisasi & Transisi Energi Percepat Kemandirian Energi

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*