SADAR atau tidak, kita sering mengambil penilaian cepat tentang karakter seseorang hanya dalam hitungan detik. Tanpa perlu mengucapkan sepatah kata pun atau melakukan tindakan apa pun, ada pria yang bentuk wajahnya langsung membuat orang asing percaya bahwa mereka adalah sosok pelindung anak yang hebat sekaligus calon ayah yang baik.
Studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Evolutionary Psychological Science menemukan bahwa pria dengan wajah yang lebih lebar konsisten dinilai sebagai pelindung anak yang lebih kuat dibandingkan sebagai sosok pengasuh. Para peneliti mengamati rasio lebar-ke-tinggi wajah (facial width-to-height ratio), yaitu perbandingan antara jarak pipi-ke-pipi dengan jarak dari bibir atas ke alis. Penelitian terdahulu telah menghubungkan wajah pria yang lebih lebar dengan persepsi kekuatan dan agresivitas, dan anggapan tersebut tampaknya juga berlaku dalam studi ini.
Psikolog Mitch Brown dari University of Arkansas beserta timnya menjalankan empat eksperimen. Dalam salah satu tes, para peserta diminta memilih pria untuk dimasukkan ke dalam tim imajiner yang bertugas melindungi anak-anak. Hasilnya, peserta memilih pria berwajah lebar dengan rasio perbandingan 2,78 banding 1,15 daripada pria berwajah tirus/panjang. Namun, ketika tugasnya diubah menjadi mengasuh (nurturing), pilihan peserta hampir seimbang.
Bentuk Wajah Pelindung Bagai Pisau Bermata Dua
Selanjutnya, para peneliti menanyakan jenis hubungan seperti apa yang menurut peserta dicari oleh para pria tersebut. Pria berwajah lebar dinilai lebih tertarik pada hubungan jangka pendek, sedangkan pria berwajah tirus dianggap lebih berminat pada hubungan jangka panjang. Jadi, bentuk wajah yang memberi kesan “pelindung yang baik” ternyata juga bisa membuat orang berasumsi bahwa pria tersebut “mungkin tidak berniat untuk berkomitmen serius.”
Salah satu eksperimen yang cukup unik melibatkan pembalikan posisi foto menjadi terbalik. Begitu foto wajah dibalik, penilaian terhadap kemampuan melindunginya langsung menurun. Hal ini menunjukkan bahwa manusia merespons bentuk wajah secara keseluruhan, bukan cuma dari satu fitur wajah yang terisolasi. Sementara itu, penilaian terkait kemampuan mengasuh tidak mengalami perubahan yang signifikan saat foto dibalik.
Brown menjelaskan kepada PsyPost bahwa efek dari persepsi ini cukup besar. Manusia kemungkinan mengembangkan kebiasaan membuat penilaian serba cepat dari informasi yang sangat terbatas saat tidak punya banyak waktu untuk saling mengenal.
Saat ini, ia sedang meneliti apakah isyarat visual dari bentuk wajah ini juga memengaruhi keputusan hak asuh anak dalam kasus perceraian. Di sinilah aspek persepsi agresivitas bisa berdampak buruk; wajah yang mengesankan kekuatan bagi satu orang bisa saja dianggap sebagai ancaman bagi orang lain.
Perlu dicatat, penelitian ini tidak pernah menguji apakah pria berwajah lebar benar-benar pelindung yang lebih baik, pengasuh yang lebih buruk, atau pasangan yang kurang berkomitmen. Studi ini hanya melihat anggapan awal orang-orang yang murni didasarkan pada tampilan wajah semata.
Baca Juga: Pengalaman Spritual Jelang Ajal: Mengapa Orang yang Hampir Meninggal Melihat Sosok yang Sudah Wafat?

Leave a Reply