Bahaya Daging Olahan: Konsumsi Harian Tingkatkan Risiko Demensia hingga 44%

Konsumsi 1-2 iris daging olahan per hari terbukti meningkatkan risiko demensia. Ketahui apa itu demensia, jenis daging berbahaya, dan dampaknya bagi otak di sini.

Mengonsumsi hanya dua lembar daging olahan per hari dapat meningkatkan risiko demensia secara signifikan. Hal tersebut terungkap dalam sebuah tinjauan ilmiah terbaru yang mengevaluasi dampak ultra-processed foods (UPF) atau makanan yang diproses sangat tinggi terhadap kesehatan otak manusia.

Apa Itu Demensia?

Demensia adalah kondisi penurunan fungsi otak yang memengaruhi daya ingat, kemampuan berpikir, memahami sesuatu, serta membuat keputusan. Kondisi ini bukan sekadar penurunan daya ingat biasa karena faktor usia, melainkan gangguan serius yang dapat mengganggu aktivitas harian seseorang. Penyakit Alzheimer merupakan salah satu bentuk demensia yang paling umum ditemukan.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Annual Review of Nutrition ini melibatkan tim yang terdiri dari 27 peneliti internasional. Mereka meninjau puluhan studi pada manusia dan hewan, termasuk data dari hampir 500.000 orang di Inggris. Hasilnya menunjukkan bahwa setiap konsumsi tambahan 25 gram daging olahan per hari (setara dengan 1–2 lembar daging deli) berkaitan dengan peningkatan risiko demensia sebesar 44% dan risiko Alzheimer sebesar 52%.

Jenis daging olahan yang disorot dalam studi ini mencakup berbagai produk olahan daging yang telah melalui proses pengasinan, pengasapan, fermentasi, atau penambahan pengawet buatan. Beberapa contoh utamanya meliputi:

  • Daging isian sandwich/deli meat (deli turkey, ham, smoked beef)
  • Daging olahan populer (sosis, hot dog, bacon, kornet kalengan, dan nugget)
  • Daging kering/fermentasi (salami, pepperoni, dendeng, dan abon)

Lead author studi tersebut, Dr. Owen Carmichael dari Pennington Biomedical Research Center, menjelaskan bahwa makanan ultra-proses sangat mudah masuk ke pasar tanpa disadari dampaknya terhadap kesehatan organ tubuh, terutama otak. Menurutnya, beberapa makanan jenis ini diproses sedemikian rupa hingga memiliki struktur kompleks mirip produk farmasi, namun tanpa melalui pengawasan ketat yang serupa.

Para peneliti mengemukakan dua teori utama mengapa daging olahan dan makanan ultra-proses lainnya dapat memperburuk kesehatan otak:

  1. Kerusakan Pembuluh Darah: Makanan berbahan pengawet tinggi dapat merusak kesehatan jantung dan pembuluh darah, yang secara tidak langsung mengganggu aliran darah menuju otak.
  2. Gangguan Kimia Otak: Bahan tambahan sintetis seperti emulsifier, pengawet, dan pewarna buatan berpotensi merusak keseimbangan kimiawi di dalam otak.

Meski demikian, para ahli menekankan bahwa studi ini bersifat observasional, sehingga belum bisa membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung.

Sebagai langkah pencegahan, para ahli menyarankan masyarakat untuk mulai mengurangi porsi makanan ultra-proses. Mengganti sekitar 10% asupan kalori dari makanan ultra-proses dengan makanan utuh (whole foods)—seperti buah, sayuran, kacang-kacangan, serta ikan kaya omega-3—diperkirakan dapat menurunkan risiko demensia hingga 19%.

Baca Juga: Efek Minum Kopi Setiap Hari Bagi Kesehatan Ginjal, Amankah?

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*